LINGKARPENA.ID | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi menggandeng Yayasan KIARA (Konservasi Ekosistem Alam Nusantara) untuk memperkaya pakan alami owa jawa (Hylobates moloch) di kawasan hutan RPH Hanjuang Selatan, BKPH Lengkong. Program seluas 3,69 hektare ini menyasar petak 48A-1 sebagai area pengayaan vegetasi.
Laporan pelaksanaan program diserahkan Ketua Yayasan KIARA, Rahayu Oktaviani, kepada Wakil Administratur KPH Sukabumi, Aldy Juliansah, di Control Room Perhutani KPH Sukabumi, Jumat (2/10/2026). Kolaborasi ini merupakan bagian dari penerapan prinsip Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) yang melibatkan partisipasi lintas sektor.
Aldy Juliansah menyatakan, Perhutani membuka ruang seluas-luasnya bagi mitra konservasi untuk menjaga keseimbangan ekologis hutan. “Kami mengapresiasi kontribusi nyata Yayasan KIARA dalam memasok ketersediaan pakan alami bagi owa jawa di habitat aslinya. Perhutani berkomitmen penuh mendukung kegiatan konservasi sejenis demi manfaat jangka panjang bagi kelestarian ekosistem,” ujarnya.
Owa jawa, primata endemik Jawa yang berstatus terancam punah, sangat bergantung pada ketersediaan pakan di dalam hutan. Kekurangan pangan di habitat alami kerap memaksa satwa ini keluar kawasan hutan dan berinteraksi dengan pemukiman warga.
Untuk menjawab tantangan tersebut, program pengkayaan vegetasi di petak 48A-1 menerapkan pendekatan berbasis ilmiah. Sejumlah spesies pohon lokal ditanam, antara lain rasamala (Altingia excelsa) dan puspa (Schima wallichii).
Namun, komponen paling krusial dalam program ini adalah penanaman tanaman buah dari genus Ficus, seperti beringin dan kiara. Rahayu Oktaviani menjelaskan, pemilihan genus Ficus didasarkan pada karakteristik fenologisnya yang berbuah hampir sepanjang tahun.
“Ketersediaan buah yang stabil di setiap musim menjadi kunci. Dengan demikian, kualitas habitat Hutan Hanjuang Selatan dapat meningkat secara signifikan dalam menyokong eksistensi owa jawa secara berkelanjutan,” paparnya.
Kemitraan antara Perhutani KPH Sukabumi dan Yayasan KIARA ini diharapkan menjadi model kolaborasi konservasi yang dapat direplikasi di kawasan hutan lain, sekaligus memperkuat upaya perlindungan satwa endemik yang populasinya terus menyusut.






