Dari Ziarah Menuju Pelestarian Sejarah, Kang Sudar Fauzi Himpun 66 Jejak Tokoh Pendahulu di Sukabumi

Kang Sudar Fauzi dalam perjalanan ziarah yang dilakukannya di wilayah Kota Sukabumi.[Foto: ist]

LINGKARPENA.ID | Menjelang peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Ketua DPD KNPI Kota Sukabumi, Kang Sudar Fauzi, menghadirkan sebuah inisiatif untuk merawat ingatan sejarah dan memperkenalkan jejak perjuangan para ulama serta tokoh pendahulu melalui pendataan 66 lokasi ziarah yang tersebar di tujuh kecamatan di Kota Sukabumi.

Pendataan tersebut menjadi upaya awal untuk menghimpun informasi mengenai keberadaan makam para ulama, waliyullah, dan tokoh terdahulu yang selama ini dikenal di lingkungan masyarakat. Selain memiliki nilai spiritual, lokasi-lokasi tersebut menyimpan potensi sebagai sumber pengetahuan sejarah lokal yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Catatan yang disusun Kang Sudar Fauzi berangkat dari pengalaman perjalanan dan ziarah yang dilakukannya. Informasi tersebut diharapkan menjadi referensi awal bagi masyarakat Kota Sukabumi maupun pengunjung dari luar daerah yang ingin mengenal lebih dekat tokoh-tokoh pendahulu sekaligus menelusuri jejak sejarah di berbagai wilayah kota.

Kang Sudar Fauzi menyampaikan bahwa inisiatif tersebut bermula dari banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai lokasi ziarah yang dapat dikunjungi ketika berada di Kota Sukabumi.

“Banyak masyarakat dan rekan-rekan dari luar daerah bertanya, kalau berkunjung ke Sukabumi, di mana saja bisa berziarah? Saya mencoba membagikan catatan yang saya miliki agar bisa menjadi informasi awal yang bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus mengenalkan ulama dan para pendahulu kepada generasi muda,” ujar Kang Sudar Fauzi di Gedung KNPI Kota Sukabumi, Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, tradisi ziarah dapat menjadi ruang untuk mempertemukan nilai spiritual dengan kesadaran sejarah. Melalui pengenalan terhadap para ulama dan tokoh pendahulu, masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui keberadaan makam, tetapi juga memahami nilai perjuangan, keteladanan, serta kontribusi para tokoh dalam kehidupan sosial masyarakat.

Dalam konteks peringatan Hari Santri Nasional, pendataan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap warisan sejarah keulamaan dan tradisi keagamaan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Berdasarkan catatan yang dihimpun Kang Sudar Fauzi, sebanyak 66 lokasi ziarah tersebut tersebar di Kecamatan Gunungpuyuh, Cikole, Citamiang, Warudoyong, Lembursitu, Cibeureum, dan Baros.

Setiap kecamatan memiliki sejumlah nama ulama, tokoh masyarakat, serta figur pendahulu yang selama ini dikenal oleh masyarakat setempat.

Berikut daftar 66 lokasi ziarah berdasarkan wilayah kecamatan sebagaimana tercantum dalam catatan awal tersebut.

Kecamatan Gunungpuyuh — 6 lokasi

1 Mama KH. Ahmad Sanusi — Gunungpuyuh (Pahlawan Nasional).

Baca juga:  Enam Jam yang Mengguncang Dunia: Jejak Serangan Umum 1 Maret 1949

2 Rd. Entam Walijaya Kusumah — Situawi.

3 Syeh Solihin — Babakan Garung.

4 Rd. Jaya Purnama/Eyang Jagabarang.

5 Eyang Suryanagara — Jalan Karamat.

6 Rd. Tatang Ibrahim (Ki Unyin).

Kecamatan Cikole — 7 lokasi

1 Mbah Wira — Subangjaya.

2 Ayah Ubuh — Subangjaya.

3 Buya Ijazi — Subangjaya.

4 Syeh Nuruddin/Mbah Kuning — Subangjaya.

5 Eyang Bale Rante/Syeh Mursid.

6 Pangeran Syaofidin Al Matromiyyi.

7 Eyang Kuta Wesi — Veteran.

Kecamatan Citamiang — 21 lokasi

1. Rd. Nata Wiangga — Taman Rohmat.

2. Mama H. Bakri — Taman Rohmat.

3. Eyang Ali Sakti — Taman Rohmat.

4. Ama KH. Bustomi.

5. Ama H. Jajuli — Kebon Enteh.

6. Mama H. Jupri bin Eyang Kaelah — Babakan Bandung, Nanggeleng.

7. Mama Haji Malik Al Maisir — Kebon Jengkol, Nanggeleng.

8. Eyang Alisan — Kebon Kawung, Tipar.

9. Eyang Idhar — Kebon Kawung, Tipar.

10. Mama Adis — Kebon Kawung, Tipar.

11. Mama TB. Lantung — Kebon Kawung, Tipar.

12. Syeh Mubarok — Kebon Kawung, Tipar.

13. Ibu Siti Jenab — Kebon Kawung, Tipar.

14. Mama Sapujagat — Kebon Kawung, Tipar.

15. Mama Soleh — Kebon Kawung, Tipar.

16. Mama Ibrahim — Kebon Kawung, Tipar.

17. Rd. Ba’ing Rangga Dikusumah — Pasir Galatik.

18. Nyimas Tanjung Sari — Pasir Galatik.

19. Mbah Asyari — Pasir Galatik.

20. Mama Tanjung Karma — Pasir Galatik.

21 Rd. Suryaditamanggala — Pasir Galatik.

Kecamatan Warudoyong — 8 lokasi

1. Mama Syekh ‘Izzuddin — Cijambe.

2. Mama Ahmad Junaidi — PP Cigunung.

3. Mama KH. Abdullah bin Husein — Gang Uyek.

4. Syeh Maulana Yusuf Ibrahim — Gang Harapan.

5. Eyang Dalem Pangeran Angka Wijaya — Dayeuh Luhur.

6. Mbah Tampain — Kebon Jati, Sukakarya.

7. Mama H. Salim — Kebon Jati, Sukakarya.

8. Mama H. Syafi’i — Kebon Jati, Sukakarya.

Kecamatan Lembursitu — 13 lokasi

1. Mama KH. Ahmad Munawar — Warung Kalapa.

2. Ama Sanyur — Joglo, Cikundul.

3. Eyang Mut’mainah — Cipanengah.

4. Ama KH. Jarkasih — Sindangsari.

5. KH. Saepul Hidayat — Sindangsari.

6. Mama Ajengan Tohir — Tegal Jambu.

7. Mama Ajengan Kosasih — Tegal Jambu.

8. Ama KH. Umar bin TB. Adum — Pangkalan.

Baca juga:  Menyusuri Jejak Laut Purba di Jampang, Pakidoelan Lab Siapkan Pertunjukan “Pulo Megalodon”

9. Eyang Dalem Suryadiningrat — Cikundul.

10. Mama KH. Nur Hasan — Warung Kalapa.

11. Abah KH. Cucu Komarudin — Cikundul.

12. Mama KH. Misbah Al Juwaedi — Jeruk Nyelap.

13. Mah Naincin — Cebek.

Kecamatan Cibeureum — 6 lokasi

1. Raden Adipati Aria Surya Natabrata — Ciandam (dalam catatan disebut sebagai Bupati Pertama Sukabumi).

2. Raden Sjamsoeddin — Ciandam (dalam catatan disebut sebagai mantan Wali Kota Sukabumi/tokoh nasional).

3. Raden Harun Kabir — Ciandam (dalam catatan disebut sebagai tokoh pejuang kemerdekaan).

4. Syekh Fakhruddin — Sungapan.

5. KH. Aang Dahlan Fadlullah.

6. Rd. Ariya Kencana.

Kecamatan Baros — 5 lokasi

1. Mama Aliyudin.

2. Ama H. Ilyas bin H. Syafi’i — Lemburpasir.

3. Kiyai Ajar Sakti — Caringin.

4. Mama Ajengan Mansur — Cikaung.

5. Mualim Jakaria — Balandongan.

Daftar tersebut memuat nama dan lokasi sebagaimana tercantum dalam catatan awal. Pendataan lebih lanjut tetap diperlukan untuk melengkapi alamat, profil tokoh, riwayat perjuangan, serta keterangan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kang Sudar Fauzi menegaskan bahwa pendataan 66 lokasi ziarah tersebut belum dimaksudkan sebagai dokumentasi sejarah yang sepenuhnya final. Sebaliknya, catatan itu menjadi titik awal untuk membuka ruang partisipasi masyarakat dalam menghimpun dan melestarikan informasi mengenai tokoh-tokoh terdahulu.

Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting agar informasi yang dikumpulkan semakin lengkap, mulai dari ketepatan nama, lokasi makam, latar belakang tokoh, hingga sumber sejarah yang mendukung keberadaan dan peran mereka.

“Ini bukan klaim bahwa seluruh sejarah sudah tercatat. Kami ingin memulai langkah sederhana untuk menghimpun informasi yang selama ini mungkin tersebar di masyarakat. Jika ada nama atau informasi yang belum tepat, kami terbuka untuk menerima masukan,” ujarnya.

Ajakan tersebut ditujukan kepada para kiai, keluarga tokoh, pengelola makam, akademisi, sejarawan, organisasi kepemudaan, serta masyarakat yang memiliki pengetahuan mengenai sejarah lokal Kota Sukabumi.

Dengan adanya kolaborasi tersebut, pendataan diharapkan tidak berhenti sebagai daftar nama dan lokasi semata. Informasi yang dihimpun juga berpeluang dikembangkan menjadi dokumentasi sejarah yang lebih terstruktur sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran, penelitian, serta pengenalan identitas daerah.

Selain melakukan pendataan, Kang Sudar Fauzi juga merencanakan pengembangan informasi lokasi ziarah ke dalam format digital. Salah satu gagasan yang disiapkan ialah pembuatan peta digital yang dilengkapi QR Code untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi mengenai lokasi dan profil tokoh.

Baca juga:  Jejak Hatta-Sjahrir Kembali Dihidupkan, Wawan Juanda: Jangan Biarkan Sejarah Berhenti sebagai Kenangan

Pengembangan tersebut diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang lebih mudah dijangkau, sekaligus membuka peluang pemanfaatan warisan sejarah sebagai bagian dari pengembangan wisata religi di Kota Sukabumi.

Melalui sistem digital, masyarakat nantinya diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai lokasi ziarah beserta keterangan tokoh yang bersangkutan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada informasi lisan yang tersebar secara terbatas.

Namun, pengembangan tersebut memerlukan proses verifikasi dan penyusunan data yang cermat. Ketepatan identitas tokoh, riwayat sejarah, lokasi, serta keterangan pendukung menjadi bagian penting agar informasi yang disajikan dapat dipercaya dan memberikan manfaat edukatif.

Inisiatif tersebut juga dapat menjadi ruang kolaborasi antara organisasi kepemudaan, pemerintah daerah, komunitas sejarah, lembaga pendidikan, keluarga tokoh, dan pengelola lokasi ziarah dalam menjaga keberlanjutan dokumentasi sejarah lokal.

Pendataan 66 lokasi ziarah ini menjadi pengingat bahwa sejarah daerah tidak hanya tersimpan dalam buku, arsip pemerintahan, atau bangunan bersejarah. Sebagian pengetahuan mengenai perjalanan masyarakat juga hidup melalui tradisi, cerita keluarga, ingatan kolektif, dan keberadaan makam para tokoh yang dihormati oleh lingkungan sekitarnya.

Karena itu, upaya menghimpun informasi mengenai ulama, waliyullah, dan tokoh pendahulu memiliki arti penting dalam memperkuat hubungan generasi masa kini dengan akar sejarah daerahnya.

Momentum Hari Santri Nasional 2026 menjadi kesempatan untuk memperluas perhatian terhadap warisan keulamaan dan sejarah lokal melalui pendekatan yang terbuka, kolaboratif, serta berorientasi pada pelestarian pengetahuan.

Bagi generasi muda, pengenalan terhadap tokoh pendahulu dapat menjadi pintu masuk untuk memahami nilai pengabdian, perjuangan, dan tanggung jawab sosial yang diwariskan dari masa ke masa. Sementara itu, bagi masyarakat luas, dokumentasi yang baik dapat membantu menjaga agar pengetahuan sejarah tidak hilang seiring berjalannya waktu.

Melalui inisiatif tersebut, Kang Sudar Fauzi bersama DPD KNPI Kota Sukabumi berharap pendataan sejarah lokal dapat terus disempurnakan dan menjadi warisan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat lintas generasi.

Pada akhirnya, merawat ingatan bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga membangun kesadaran tentang asal-usul, nilai perjuangan, dan identitas yang menjadi bagian penting dari perjalanan Kota Sukabumi.

Pos terkait