LINGKARPENA.ID | Angin puting beliung menerjang bangunan hunian sementara (huntara) di Kampung Cukang Paku, Desa Sirnasari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, Selasa (24/2/2026) sekitar pukul 03.00 WIB. Akibat kejadian tersebut, enam unit huntara mengalami kerusakan parah dan tak lagi bisa dihuni.
Huntara yang mayoritas beratapkan terpal dan bertiang bambu itu tak mampu menahan terjangan angin kencang. Atap beterbangan dan rangka bangunan roboh, memaksa para penghuni menyelamatkan diri di tengah gelapnya malam.
Camat Pabuaran, Ali Murtado, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan angin puting beliung menyebabkan atap enam unit huntara terlepas.
“Semalam sekitar pukul dua dini hari terjadi angin puting beliung yang menyebabkan atap huntara di Cukang Paku terlepas. Total ada enam unit yang terdampak. Untuk sementara, sebagian warga mengungsi ke mushola terdekat,” ujarnya saat dikonfirmasi lingkarpena. id, Selasa ( 24/2/2026 ).
Berdasarkan laporan sementara dari Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Pabuaran, A. Yogi Regina, terdapat empat kepala keluarga dengan total 14 jiwa yang terdampak. Rinciannya terdiri dari tiga anak-anak, dua lanjut usia, dan sembilan orang dewasa.
“Data sementara yang kami terima, ada enam huntara terdampak dengan empat KK dan 14 jiwa. Saat ini kami sudah melakukan pengecekan lokasi dan berkoordinasi dengan BPBD serta relawan untuk penanganan awal,” kata Yogi.
Pihak kecamatan bersama relawan berupaya melakukan langkah darurat dengan menutup kembali bagian atap yang terlepas agar hunian dapat digunakan sementara waktu.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sukabumi dan para relawan. Insyaallah dalam waktu dekat akan dibantu untuk menutup kembali atap-atap yang lepas agar warga tidak terus mengungsi,” tambah Ali.
Meski tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut, kerugian material cukup signifikan. Seluruh bangunan yang terdampak dilaporkan rusak berat dan belum memungkinkan untuk dihuni kembali secara normal.
Para warga terdampak berharap adanya perhatian dan bantuan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun donatur. Kebutuhan mendesak saat ini meliputi makanan siap saji, perlengkapan tidur, serta kebutuhan harian lainnya.
Mereka juga meminta pemerintah daerah hingga instansi penanggulangan bencana, seperti BPBD Kabupaten Sukabumi, BPBD Provinsi Jawa Barat, dan BNPB, dapat segera memberikan solusi hunian yang lebih layak dan permanen.
“Kami berharap ada solusi tempat tinggal yang lebih kuat dan permanen. Karena kalau hanya terpal dan bambu, kami khawatir kejadian seperti ini terulang,” ungkap salah seorang warga terdampak.
Hingga saat ini, proses pendataan dan penanganan darurat masih terus dilakukan oleh aparat setempat bersama unsur kebencanaan.






