LINGKARPENA.ID |18 Juni 2025 – Rangkaian kegiatan Training of Trainer (ToT) Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) 2025 menghadirkan sesi khusus praktik pengolahan pangan bergizi yang dipandu oleh Ida Widiawaty, kader terlatih dari Kelurahan Situ Gede.
Sesi ini menjadi bagian penting dari pelatihan karena membekali para fasilitator dengan keterampilan praktis untuk mendampingi keluarga dalam menyediakan makanan sehat bagi anak balita dan ibu hamil.
Kegiatan ToT fasilitator SKB merupakan program kolaboratif antara Direktorat Pengembangan Masyarakat dan Agromaritim (DPMA) dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) FEMA IPB University.
Program ini bertujuan menyiapkan fasilitator dari desa-desa lingkar kampus serta berbagai provinsi di Indonesia untuk menjadi agen perubahan dalam pemberdayaan keluarga.
Melalui pelatihan ini, fasilitator dibekali pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam mewujudkan keluarga yang berkualitas, sejahtera, dan produktif sebagai fondasi Generasi Emas Indonesia 2045.
Pada sesi demo masak, Ida menyampaikan pentingnya edukasi gizi sejak dini melalui pendekatan berbasis pangan lokal. Salah satu bahan utama yang digunakan adalah telur puyuh, yang merupakan produk unggulan hasil peternakan dari Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB.
Telur puyuh dimasak bersama sayuran segar dan bahan lokal lain seperti tempe dan wortel dapat diolah menjadi menu sehat yang mendukung tumbuh kembang optimal pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Gizi seimbang itu tidak harus mahal. Yang penting adalah pengetahuan dan kemauan untuk mengolahnya. Banyak keluarga punya akses ke bahan pangan bergizi, tapi belum tahu cara menyajikannya dengan menarik untuk anak-anak,” jelas Ida di tengah sesi demonstrasi.
Ia berharap para fasilitator yang hadir tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga teladan langsung di komunitas masing-masing. “Lewat dapur, kita bisa mulai perubahan. Demo masak ini bukan hanya soal resep, tapi tentang membangun budaya makan sehat di keluarga,” tambahnya.
Sesi ini disambut antusias oleh peserta, menandai keberhasilan pendekatan partisipatif dalam pelatihan SKB. Dengan praktik langsung seperti ini, program ToT tidak hanya menyentuh teori, tetapi juga menghidupkan semangat fasilitator dalam menggerakkan keluarga menuju kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas.






