LINGKARPENA.ID | Sebuah karya film bertajuk “SULUR: Misteri Harta Korun” resmi memulai proses produksi pada 25 Januari 2026. Film ini merupakan hasil kolaborasi kreatif antara rumah produksi Media X Fiction dan Homely Fiction bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, yang bertujuan mengangkat kekayaan alam, budaya, serta nilai kearifan lokal Sukabumi ke layar lebar nasional.
Proses pengambilan gambar akan dilakukan di sejumlah destinasi wisata unggulan Kabupaten Sukabumi, di antaranya Pantai Karanghawu di Kecamatan Cisolok, kawasan Pelabuhanratu, serta salah satu curug di kawasan Geopark Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark yang berada di wilayah Kecamatan Ciemas.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Dr. Drs. H. Ali Iskandar, M.H., menyambut baik dimulainya produksi film tersebut. Menurutnya, film SULUR tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga sarat dengan nilai pendidikan, kebudayaan, dan pesan moral yang kuat bagi masyarakat.
“Film Sulur: Misteri Harta Korun ini mengandung nilai pendidikan, nilai kebudayaan, dan nilai kebaikan yang dapat diambil hikmahnya. Ini bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan,” ujar Ali Iskandar.
Ia menjelaskan, film ini mengisahkan tentang tokoh Sukiran, seorang pria yang memilih jalan pintas untuk meraih kekayaan karena tidak tahan menghadapi kemiskinan. Dalam ceritanya, Sukiran mendatangi Nyi Warsih, sosok yang memiliki kekuatan gaib, dengan konsekuensi pengorbanan besar yang harus dibayar.
“Sulur dalam film ini dimaknai sebagai sikap tergesa-gesa, menempuh jalan pintas. Sukiran ingin cepat kaya, namun harus menumbalkan kebahagiaan abadi, bahkan anak dan istrinya. Harta memang didapatkan, tetapi tidak berlangsung lama dan justru membawa penderitaan,” jelasnya.
Ali Iskandar menambahkan, film ini juga menyampaikan pesan filosofi kehidupan Sunda, yakni ‘niti taraje nincak hambalan’, yang berarti segala sesuatu harus ditempuh secara bertahap, berproses, dan penuh kesabaran.
“Kebahagiaan dan kesuksesan sejati tidak bisa diraih dengan jalan pintas. Harus melalui kerja keras, doa, pengorbanan yang benar, dan proses yang panjang. Itulah pesan moral utama yang ingin disampaikan film ini,” tambahnya.
Selain mengangkat nilai moral, produksi film SULUR juga melibatkan unsur lokal, termasuk hasil casting Mojang dan Jajaka Pinilih Kabupaten Sukabumi, yang diharapkan dapat memperkuat identitas daerah dalam film tersebut.
Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi berharap film ini dapat segera dituntaskan dan dipublikasikan, sekaligus menjadi media promosi efektif bagi pariwisata daerah.
“Kami berharap film ini mampu mengangkat daya tarik wisata Kabupaten Sukabumi, sehingga semakin banyak wisatawan datang, berkunjung, dan membelanjakan uangnya di Sukabumi. Pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat pun dapat terwujud,” pungkas Ali Iskandar.
Pemerintah daerah pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap karya film lokal ini agar dapat menjadi kebanggaan bersama dan membawa manfaat luas bagi Kabupaten Sukabumi.






