LINGKARPENA.ID | Curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur Kabupaten Sukabumi dalam beberapa hari terakhir memicu berbagai kejadian bencana hidrometeorologi di sejumlah kecamatan. Berdasarkan Laporan Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kabupaten Sukabumi, hingga Selasa (16/12/2025) pukul 19.00 WIB, tercatat banjir, longsor, cuaca ekstrem, serta pergerakan tanah yang berdampak pada permukiman warga, infrastruktur, hingga lahan pertanian.
Di Kecamatan Jampangtengah, banjir melanda Kampung Tangkil RT 023/007 dan RT 024/007 Desa Bantaragung pada Selasa dini hari sekitar pukul 04.00 WIB. Hujan yang turun terus-menerus selama dua hari menyebabkan sekitar 10 hektare lahan sawah terendam air. Kondisi ini membuat tanaman padi terancam gagal panen dan memerlukan pengolahan lahan serta penanaman ulang, khususnya pada sawah yang baru selesai ditanami.
Sementara itu, cuaca ekstrem di Kecamatan Palabuhanratu mengakibatkan satu unit rumah semi permanen milik Ibu Kayah di Kampung Bagbagan RT 01/01 Desa Jayanti ambruk pada Senin (15/12/2025) sekitar pukul 18.00 WIB. Rumah tersebut roboh setelah diguyur hujan selama beberapa hari, ditambah kondisi kayu penopang bangunan yang sudah lapuk. Akibat kejadian ini, rumah mengalami kerusakan berat dan tidak dapat dihuni.
Bencana longsor juga terjadi di Kecamatan Parungkuda. Hujan dengan intensitas tinggi pada Senin malam sekitar pukul 23.55 WIB menyebabkan jembatan akses warga di Kampung Cipanggulaan RT 006/003 Desa Pondokkaso Landeuh tergerus aliran sungai. Jembatan dengan panjang sekitar 160 meter dan lebar satu meter tersebut kini terputus, sehingga tidak dapat dilalui warga menuju area perkebunan.
Di Kecamatan Simpenan, bencana banjir dan longsor melanda Kampung Cimalaka dan Kampung Cipicung Desa Mekarasih sejak Senin (15/12/2025) sekitar pukul 03.00 WIB. Hujan deras yang berlangsung lama mengakibatkan sejumlah ruas Jalan Bagbagan–Warungkiara tergerus dan mengalami longsor.
Longsoran tanah menimpa badan jalan dengan ketinggian material mencapai empat meter, sementara tebing di atasnya setinggi sekitar 25 meter. Selain itu, jembatan penghubung Mekarasih–Warungkiara di Kampung Cipicung dilaporkan putus, serta beberapa titik jalan mengalami anjlok dan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Kerusakan juga terjadi pada irigasi Pasir Malang yang jebol dan mengancam pasokan air untuk sekitar delapan hektare sawah.
Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Warungkiara. Hujan deras pada Senin dini hari sekitar pukul 02.30 WIB memicu longsor di Desa Bantarkalong. Longsoran tanah menutup sejumlah ruas jalan, di antaranya Jalan Pasir Gerong–Bojonghaur yang amblas sepanjang 100 meter, Jalan Pasir Jambu di Dusun Bojonghaur, serta beberapa ruas jalan kabupaten di wilayah Lebak dan Cigadog. Selain itu, jembatan jalur pertanian Bojonghaur–Jogjogan tertimpa pohon akibat longsor.
Di Kecamatan Cikembar, pergerakan tanah terjadi di Kampung Cimenteng RT 01/05 Desa Sukamulya pada Senin malam sekitar pukul 21.00 WIB. Hujan dengan intensitas tinggi sejak akhir pekan menyebabkan satu rumah amblas dan lima rumah lainnya terancam. Sebanyak satu kepala keluarga dengan empat jiwa terpaksa mengungsi ke rumah kerabat demi keselamatan.
Petugas BPBD Kabupaten Sukabumi bersama unsur pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan petugas sosial telah melakukan asesmen, koordinasi lintas sektor, serta evakuasi warga terdampak di beberapa lokasi. Masyarakat di wilayah rawan juga diimbau untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi longsor susulan dan pergerakan tanah.
“Curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama menjadi faktor utama terjadinya rangkaian bencana ini. Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan longsor dan bantaran sungai, untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor jika terjadi tanda-tanda bahaya,” ujar petugas Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Sukabumi dalam keterangannya, Selasa malam.






