Menengok Terowongan Belanda di Kampung Bedeng Surade Sukabumi

FOTO: Lokasi bersejarah, Terowongan Belanda yang ada di Kampung Bedeng, Desa Pasiripis Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi.| Istimewa

LINGKARPENA.ID | Adanya beberapa bangunan bersejarah di wilayah Sukabumi Selatan, atau biasa di sebut Pajampangan, menandakan jika dulunya Pajampangan dianggap sebagai satu wilayah penting oleh kaum kolonial.

Beberapa bangunan bersejarah yang ada di wilayah Pajampangan yang hingga kini masih ada, antara lain Bunker Jepang di Desa Sukamukti, Kecamatan Waluran, Dermaga Bagal Batre di Pantai Ujunggenteng Kecamatan Ciracap, dan Bunker Jepang di Kampung Cikarang serta terowongan di Kampung Bedeng, keduanya di Desa Pasiripis Ipis, Kecamatan Surade.

Kondisi bangunan bersejarah yang ada itu sebagian sudah rusak seperti Dermaga Bagal Batre di Ujunggenteng, rusak oleh kikisan ombak. Yang lebih memperihatinkan menimpa Situs Pinangjajar, dimana bangunan Bunker Jepang itu pada bagian luarnya ada tulisan menggunakan cat, “Tidak Butuh Hanya Jawaban”.

Baca juga:  RE Masuk Survei Calon Gubernur DKI Jakarta, Daryanto: Sangat Layak!

Yang lebih memperihatinkan menimpa Tugu (Palagan) Cikarang Sasak, di Kampung Cirangkong, Desa Sukamukti, Kecamatan Jampangkulon. Tugu pertanda adanya perlawan rakyat Pajampangan di masa penjajahan itu kini menjadi korban vandalisme, dicoret Coret ulah tangan jahil orang tak dikenal.

Sangat di sayangkan padahal benda bersejarah itu memiliki makna penting tentang perjuangan bangsa di masa lalu. Dan aksi vandalisme pelakunya terancam dijerat sanksi pidana hukuman penjara 15 tahun. Sebagaimana diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya.

Baca juga:  Warga Soroti Biaya PTSL di Desa Bantar Agung Jampang Tengah

Lain halnya dengan warga Desa Pasiripis Kecamatan Surade bernama Bakti. Pada lahan milikinya terdapat bangunan bernilai sejarah, yakni Terowongan sisa peninggalan Belanda, berlokasi di Kampung Bedeng, berjarak 1 kilo meter dari tempat tinggalnya.

Karena terdorong rasa nasionalisme, Bakti yang lahir dari keluarga TNI Angkatan Udara ini, sangat tahu dan paham betul bahwa benda bernilai sejarah wajib dilindungi dan dipelihara keberadaannya. Saat ini ia tengah melaksanakan kegiatan pembuatan akses jalan ke lokasi Terowongan itu. Tak tanggung pengerjaannya pun menggunakan alat berat dengan biaya sendiri.

Baca juga:  Di Usia ke 42 Tahun, Gunungsungging "Ginding" Kian Mendunia

“Sayang ini aset penting. Alhamdulilah untuk melihat terowongan dari dekat sekarang bisa melalui jalan yang sudah saya bangun, jadi bisa langsung masuk. Sebenarnya ada dua terowongan hanya yang satu sudah rusak,” singkat Bakti kepada lingkarpena.id Rabu (14/8/24).

Berkat kepeduliannya kini warga bisa melihat langsung dari dekat bangunan bersejarah tersebut. Pada areal sekitar Terowongan tersebut nampak berjejer pohon pohon jati, sangat cocok dijadikan spot foto dan dijadikan wahana edukasi sejarah terutama bagi kalangan pelajar.

Pos terkait