Mengungkap Potensi Maggot di Sukabumi: Dari Pengolah Sampah Organik hingga Sumber Nilai Ekonomi

Pengelolaan Maggot, milik Yan Yan My, yang berlokasi di Jalan Pelabuhan II, Gang Murni, RT 5/RW 1, Kota Sukabumi.[Foto: Salsabila]

LINGKARPENA.ID | Sampah organik yang kerap dianggap tidak memiliki nilai guna ternyata berpotensi dimanfaatkan menjadi sumber daya yang bermanfaat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui budidaya maggot, larva lalat Black Soldier Fly (BSF), yang dapat membantu mengolah limbah organik sekaligus menghasilkan pakan alternatif dan produk sampingan bernilai ekonomi. Potensi tersebut dikembangkan oleh bapak Yan Yan Mulyana melalui usaha pengelolaan maggot bernama Yan Yan My, yang berlokasi di Jalan Pelabuhan II, Gang Murni, RT 05/RW 01, Kota Sukabumi.

 

Berdasarkan wawancara pada 8 Oktober 2026, bapak Yan Yan menjelaskan bahwa kegiatan pengelolaan maggot yang dijalankannya berawal dari banyaknya limbah organik di lingkungan sekitar. Ia kemudian berinisiatif memanfaatkan limbah tersebut agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

 

“Awalnya karena banyaknya limbah organik yang ada di wilayah kami, maka saya bergerak untuk memanfaatkannya,” ungkap Yan Yan Mulyana.

 

Maggot sebagai Alternatif Pengolahan Sampah dan Pakan

Salah satu potensi utama maggot adalah membantu mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke TPA. Melalui proses budidaya, bahan organik tertentu dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan bagi larva, sehingga memiliki nilai guna kembali.

 

Menurut bapak Yan Yan, maggot tidak hanya berpotensi membantu mengurangi sampah, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ternak dan ikan.

 

“Mungkin bisa mengurangi volume sampah yang terbuang ke TPA. Maggotnya sendiri bisa jadi pakan alternatif,” jelasnya.

Baca juga:  Jelang Idul Adha Harga Bapokting Relatif Stabil

 

Ia menambahkan bahwa maggot dapat menggantikan sebagian pakan pabrikan, terutama ketika sumber pakan alternatif lain sulit diperoleh pada musim kemarau.

 

“Bisa mengganti pakan pabrikan dengan maggot, apalagi musim kemarau seperti ini keong sawah sudah tidak ada,” tuturnya.

 

Berdasarkan pengalamannya, bapak Yan Yan memperkirakan maggot dapat menggantikan sekitar 40 persen pakan pabrikan dalam kegiatan pemberian pakan yang ia maksud. Angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan pengalaman pengelola, bukan hasil pengujian ilmiah yang berlaku untuk semua jenis ternak atau ikan. Penggunaan maggot tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi dan jenis hewan yang diberi pakan.

 

Kasgot dan Peluang Ekonomi dari Budidaya Maggot

Potensi budidaya maggot tidak berhenti pada pemanfaatan larvanya. Sisa media budidaya yang dikenal sebagai kasgot juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pembenah tanah setelah memenuhi persyaratan kualitas dan kematangan yang sesuai.

 

“Selain maggot jadi pakan ternak, kasgotnya pun bisa jadi pupuk dan bisa dijual,” ungkap bapak Yan Yan.

 

Pemanfaatan maggot dan kasgot membuka peluang untuk memperoleh nilai tambah dari kegiatan budidaya. Maggot dapat digunakan sebagai pakan atau umpan memancing, sedangkan kasgot berpotensi menjadi produk tambahan yang dapat dimanfaatkan maupun dipasarkan.

 

bapak Yan Yan melihat bahwa peluang pasar maggot masih terbuka karena penggunanya tidak terbatas pada peternak dan pembudidaya ikan. Menurutnya, pemancing ikan lele juga menyukai maggot sebagai umpan.

Baca juga:  Luncurkan Marketing Gallery, Kawasan Industri Cikembar Ciptakan Lapangan Kerja

 

“Peluangnya masih memungkinkan, karena bukan hanya untuk pakan ternak saja. Pemancing lele pun suka menggunakan maggot,” jelasnya.

 

Beragam pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa budidaya maggot berpotensi menghubungkan pengolahan sampah organik dengan kebutuhan pakan dan peluang usaha lokal. Meski demikian, keberhasilan usaha tetap bergantung pada ketersediaan bahan baku, kualitas produk, biaya operasional, dan permintaan pasar.

 

Tantangan Budidaya dan Harapan Pengelola

Di balik berbagai potensinya, budidaya maggot juga menghadapi tantangan. bapak Yan Yan menyebutkan bahwa pasokan sampah organik yang stabil dan kondisi tempat pemeliharaan yang optimal menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan budidaya.

 

“Sampah organiknya harus terus stabil dan tempat pemeliharaannya harus optimal,” ujarnya.

 

Ketersediaan bahan baku yang terjaga diperlukan agar proses budidaya dapat berlangsung secara konsisten. Selain itu, bahan organik perlu dipilah dan diperiksa agar sesuai untuk budidaya serta tidak tercampur bahan berbahaya.

 

Salah satu harapan bapak Yan Yan adalah agar sampah organik dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan Kota Sukabumi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku budidaya maggot. Ia menyampaikan bahwa sampah dari dapur tersebut masih diangkut menggunakan truk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), padahal sebagian bahan organiknya dibutuhkan untuk kegiatan budidaya.

Baca juga:  Ketua DPRD Hadiri Peresmian Ratu Fresh Mart dan Launching SPPG Palabuhanratu 2 Sukabumi

 

“Harapannya, dapur MBG yang ada di lingkungan Kota Sukabumi ini masih membuang ke truk DLH, padahal organiknya saya butuhkan,” ungkapnya.

 

Harapan tersebut membuka peluang kerja sama antara pengelola dapur dan pembudidaya maggot. Dengan pemilahan, pengumpulan, dan penyaluran yang terencana, sampah organik yang sesuai berpotensi dimanfaatkan kembali. Namun, kerja sama tersebut perlu memperhatikan kebersihan, keamanan bahan, dan kesesuaian sampah untuk budidaya.

 

Mengembangkan Potensi Maggot secara Berkelanjutan

Pengalaman bapak Yan Yan Mulyana melalui Yan Yan My menunjukkan bahwa maggot memiliki potensi sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah organik sekaligus sumber pakan dan peluang ekonomi. Selain larvanya yang dapat dimanfaatkan, kasgot juga berpotensi memberikan nilai tambah apabila dikelola dengan tepat.

 

Pengembangan potensi ini memerlukan pengelolaan budidaya yang konsisten, ketersediaan bahan baku yang memadai, serta kerja sama dengan masyarakat dan pihak terkait. Pemilahan sampah organik sejak dari sumbernya dapat menjadi langkah awal untuk mendukung pemanfaatan limbah secara lebih optimal.

 

Maggot memang bukan satu-satunya solusi untuk persoalan sampah. Namun, apabila dikembangkan dengan tepat, budidaya ini dapat menjadi bagian dari pengelolaan sampah terpadu yang menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pemanfaatan sumber daya dan peluang ekonomi masyarakat.

Penulis : Salsabila Azzahro Lukman (mahasiswa semester 7 Program Studi S1 Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Sukabumi).

Pos terkait