Nasib Penyadap Nira Sukabumi Selatan Perlu Perhatian Pemerintah

Inilah gula merah yang dihasilkan para petani gula merah wilayah Selatan Kabupaten Sukabumi.| Foto: Jajang S

LINGKARPENA.ID | Gula merah merupakan salah satu produk unggulan wilayah Selatan Kabupaten Sukabumi. Karenanya, banyak warga di daerah tersebut yang menekuni pekerjaan sebagai tukang sadap, bahasa adabnya pengrajin gula merah.

Menjadi penyadap nira kelapa, atau di daerah Jampang lebih dikenal dengan sebutan tukang nyadap, bukanlah profesi yang di cita citakan. Umumnya dipilih karena tak ada pilihan lain, atau pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun.

Di wilayah Selatan Sukabumi, atau dikenal Pajampangan, hampir setiap pelosok terdapat tukang sadap nira kelapa. Mereka sadar profesi yang digelutinya itu berisiko dan tak menjanjikan jaminan hidup layak.

Namun, pada umumnya mereka seolah terjebak pada kepasrahan. Ahirnya mereka jadi objek perahan para tengkulak.

Dalam prakteknya, para tukang sadap nira kelapa umumnya menyadap nira bukan pada pohon kelapa milik sendiri, melainkan hasil sewa ke orang lain, atau pohon kelapa milik sang tengkulak.

Baca juga:  Menteri BUMN Ajak Perusahaan Swasta Atasi Masalah Minyak Goreng

Gula merah yang dihasilkan para penyadap itu dijual ke tengkulak dengan sistem borsom. Artinya sebelum gula dihasilkan terlebih dahulu si penyadap meminjam sejumlah uang ke para tengkulak, dibayar dengan menyetor gula merah hasil olahannya.

Mirisnya harga jualnya pun ditentukan sang tengkulak. Kondisi ini menjadi ladang keuntungan oknum tengkulak. Fluktuasi harga gula merah di pasaran tengkulak lah yang mengatur.

Ironisnya lagi manakala harga pasaran gula merah sedang tinggi, tengkulak seolah tutup mata, tapi ketika harga pasarannya rendah, tengkulak mengabarinya segera.

Seperti diakui Duduh (45), warga Kampung Tegalpari, Desa Kadaleman, Kecamatan Surade, dirinya mengaku memiliki utang ke tengkulak sebesar Rp 5 juta. Piutang itu dibayarnya rutin dengan setoran gula.

Berat memang, tapi tak ada pilihan kata Duduh. Dan itu diakuinya sebagai pinjaman ke tigakalinya untuk biaya pengobatan anak semata wayangnya.

“Ini pinjaman saya yang ke tiga kali. Sekarang hampir lunas, tinggal lima ratus ribu lagi. Dulu pernah pinjam besar untuk biaya rehab rumah,” jelas Duduh.

Baca juga:  Kapolsek dan Muspika Cibadak Sidak Minyak Goreng di Pasar Semi Modern

Keterikatan dan saling membutuhkan dalam siklus transaksi sistem borsom yang lumrah terjadi di Wilayah Pajampangan inilah yang membuat sipenyadap terbelenggu sistem tataniaga ijon.

Disini perlu hadir pihak pemerintah dalam upaya menciptakan sistem transaksi yang sehat dan keberpihakan.

Manisnya gula merah yang dinikmati masyarakat ternyata mengandung jerih payah dan kegiatan menentang bahaya para penyadap nira.

Kenyataan tidak semua cerita tentang penyadap nira selalu berahir bahagia. Banyak dari mereka yang mengalami kisah tragis jatuh dari pohon kelapa, bahkan langsung meregang nyawa.

Sementara keberadaan penyadap nira kelapa yang celaka selalu luput dari perhatian. Terbukti hingga saat ini, tidak sedikitpun bantuan yang diberikan oleh pemerintah setempat kepadanya.

Adanya para penyadap nira yang jadi korban, baik korban jiwa maupun luka luka ketika Menderes air nira. Mestinya hal ini menjadi perhatian khusus pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Baca juga:  Wabup Apresiasi Kreativitas Generasi Muda di Kabandungan New Face 2023

Oleh karena itu para penyadap tidak hanya menjadi pejuang keluarga, tetapi juga ikut mempertahankan dan turut memboomingkan gula merah sebagai produk unggulan lokasi selatan kabupaten Sukabumi.

Banyak cara sebenarnya untuk membantu para penyadap nira supaya mereka bisa tenang dan nyaman dalam bekerja. Misalnya, pemerintah daerah bisa mempasilitasi para penyadap dalam keikutsertaan anggota BPJS. Kemudian Pemda juga berkewajiban dalam melakukan pengadaan alat pengaman bagi para penyadap saat merek bekerja.

Yang tak kalah penting adalah, pemerintah daerah ikut berperan aktif dalam memonitor harga dipasaran serta memberi kemudahan permodalan bagi para penyadap.

Pembentukan kelompok usaha bersama ( KUBE ) untuk para penyadap nira dirasa sangat tepat. Selain itu adanya pembinaan dari dinas terkait, terutama soal teknis dan tataniaganya akan menjadi cara tepat untuk memangkas bahkan menghilangkan sistem Borsom.

Pos terkait