LINGKARPENA.ID | Bulan ramadhan 1445 H/ 2024 M, Taman Megalodon terletak di Kelurahan/Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, ramai oleh pedagang jajanan kekinian dan takjil.
Keramaian pada sore menjelang berbuka puasa di seputaran Taman Megalodon adalah pemandangan langka dan hanya ada setahun sekali, saat bulan puasa.
Suasana riuh menjelang berbuka puasa yang terjadi di seputaran Taman Megalodon adalah hal biasa terjadi diaetiap jantung kota, dimanapun. Perlu dimaklumi, dan suasana seperti itu adalah momen baik untuk para pedagang mengkais rejeki.
Seorang tokoh Surade angkat bicara terkait kondisi itu. Menurutnya , itu momen langka dan kesempatan baik untuk para pedagang. Lebih lanjut katanya, asal tidak berdampak buruk pada ketertiban dan arus lintas warga pengguna jalan tidak terganggu, biarlah para pedagang dan masyarakat umum menikmati suasana itu.
” Saya perhatikan dari tadi, bagus dan tidak terjadi kemacetan. Dan saya yakin jika diseputaran Taman Megalodon tidak seramai itu justru para pengendara sepeda motor suka melintas dengan kecepatan tinggi, ” ujar Wanto seorang pengunjung dari Cikarang.
Sebelumnya, Taman Megalodon yang terletak di jantung kota Kecamatan Surade, biasa orang mengenalnya Bunderan, beberapa ornamen taman mengalami kerusakan akibat hempasan angin. Lampu listrik berbentuk tulisan ” Taman Megalodon ” hancur berantakan.
Sejatinya areal yang kini dijadikan Taman Megalodon, peruntukannya dijadikan lahan parkir untuk para jemaah Masjid Al- Aljalil. Atau dijadikan taman Masjid. Dan penempatan Taman Megalodon lebih pas jika terletak di wilayah Desa Gunungsungging, tempat dimana banyak ditemukan fosil gigi hiu purba.
Keriuhan diseputaran Taman Megalodon yang jarang terjadi, hanya sekali dalam setahun, selayaknya pemerintah Kecamatan Surade memberi dispensasi untuk 30 hari ke depan hingga usai hari raya Lebaran.
Seperti diakui Uep ( 64 ), seorang pedagang jajanan kekinian, ia merasa senang dengan keramaian itu karena omset penjualannya meningkat jauh jika dibanding ketika saat berdagang cara keliling.
” Kepada pemerintah setempat semoga memberi kesempatan dan pertimbangan kepada kami kaum pedagang. Kami minta waktu untuk berjualan hingga lebaran, ” harap Uep.