Peduli Pendidikan: Kolaborasi Lintas Sektoral Kembalikan Anak Yatim Bersekolah

LINGKARPENA.ID | Kepedulian terhadap masa depan generasi muda ditunjukkan oleh Yogi Pebriansyah, S.H., M.Kn. Yogi merupakan seorang pemuda yang juga dikenal aktif dalam bidang hukum. Ia mendampingi seorang siswa SMP 1 Kabupaten Sukabumi, di Jalan Selabintana, Sudajaya Girang Kecamatan Sukabumi, bernama Noval.

 

Noval merupakan seorang anak yatim piatu yang sebelumnya dikembalikan ke orang tua walinya oleh pihak sekolah. Pengembalian Noval ke orabg tua walinya bukan tanpa alasan. Itu berawal dari perilaku kenakalan remaja.

 

Kasus ini pun menyita perhatian banyak pihak. Terlebih karena menyangkut hak dasar seorang anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Terlepas dari latar belakang dan kesulitan hidup yang ia alami.

 

Menyadari pentingnya peran negara dalam mendampingi anak-anak yang rentan, Yogi pun bergerak cepat. Pada hari ini, ia turut hadir mendampingi Noval bersama Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi dan Kepala Dinas Pendidikan untuk melakukan audiensi langsung dengan pihak sekolah.

Baca juga:  KARTA Kota Gandeng Komunitas Brio Sukabumi Santuni Yatim dan Bagikan Takjil

 

“Kami tidak ingin ada anak yang kehilangan kesempatan untuk berubah dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik hanya karena latar belakang kehidupannya. Apalagi Noval adalah anak yatim piatu. Dia justru harus kita rangkul dan bimbing bersama,” ujar Yogi Pebriansyah, Rabu (11/6) kepada awak media.

 

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana konstruktif. Semua pihak bersepakat untuk mencari solusi terbaik agar Noval tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa harus dikucilkan dari lingkungan sekolah.

 

Baca juga:  Kadisdik Respons Kasus Keracuanan Massal di SDN Nangewer Sukabumi

Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah program pembinaan kedisiplinan melalui barak militer, sebagaimana yang pernah digagas oleh Gubernur Jawa Barat sebagai bentuk pendekatan pembinaan karakter terhadap siswa bermasalah.

 

Program barak militer yang dimaksud adalah inisiatif pembinaan semi-militer untuk menanamkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab dan etika sosial kepada anak-anak dan remaja yang mengalami masalah perilaku.

 

“Kita ingin Noval bukan hanya kembali ke sekolah, tapi juga memiliki motivasi hidup yang lebih kuat. Kalau barak militer bisa jadi jalan untuk membentuk kedisiplinan dan mentalnya, maka itu harus dipertimbangkan dengan serius,” tambah Yogi.

 

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi menyambut baik upaya ini. Bahkan menyatakan bahwa semua anak memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan dan masa depan yang lebih baik, tanpa diskriminasi.

Baca juga:  Musyawarah PGRI di Cibaregbeg Sukabumi, Guru Ali Terpilih Sebagai Ketua

 

Kepala Dinas Pendidikan pun menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak lepas tangan terhadap siswa-siswa yang mengalami kesulitan sosial maupun perilaku.

 

Kisah ini menjadi refleksi penting bahwa penanganan kenakalan remaja tak bisa dilakukan dengan cara mengabaikan atau mengeluarkan mereka dari sistem pendidikan. Justru perlu ada pendekatan kolaboratif antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat sipil yang peduliseperti yang ditunjukkan oleh Yogi Pebriansyah.

 

Dengan semangat gotong royong, Yogi dan para pihak terkait terus berupaya agar Noval tidak menjadi korban kedua dari sistem yang abai, melainkan menjadi contoh anak yang berhasil bangkit berkat kepedulian bersama.

Pos terkait