LINGKARPENA.ID | Sejumlah pekerja proyek pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di kawasan pesisir Pantai Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, mengeluhkan lambatnya pembayaran upah kerja yang mereka terima.
Pantauan Lingkarpena.id pada Senin (3/11/2025), beberapa pekerja lokal asal Kecamatan Gunungguruh tampak tidak masuk kerja dan memilih berdiam di rumah kontrakan. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, sebanyak 11 pekerja diketahui absen sebagai bentuk protes terhadap keterlambatan pembayaran upah.
“Kemarin janjinya upah akan dibayarkan dua minggu sekali, ternyata tidak. Hari ini kami tidak masuk kerja, ini bentuk protes kami,” ujar Utom, salah satu pekerja yang juga menjadi kepala rombongan.
Utom menegaskan, dirinya dan rekan-rekan lainnya tidak akan kembali bekerja sebelum upah yang tertunda dibayarkan.
“Saya berharap upah segera dibayarkan. Kami juga punya keluarga yang harus makan,” keluhnya.
Sementara itu, Nandang, selaku mandor proyek, membantah bahwa keterlambatan pembayaran dilakukan secara sengaja. Ia menyebut, hal tersebut hanya karena adanya penundaan waktu pembayaran yang bertepatan dengan hari libur.
“Memang sistemnya dua minggu sekali, tapi kadang ada jeda satu-dua hari. Apalagi kemarin bertepatan dengan hari libur. Hari ini sore semua akan kami bayarkan,” jelasnya.
Nandang juga menyebutkan bahwa upah pekerja di proyek KNMP tergolong lebih tinggi dibanding standar umum. Tukang menerima upah Rp150 ribu per hari, sementara kernet Rp130 ribu per hari.
“Biasanya upah tukang dan kernet di bawah itu. Di sini ada kenaikan sekitar Rp10 ribu,” tambahnya.
Proyek Kampung Nelayan Merah Putih Palangpang senilai Rp14,34 miliar ini dibiayai melalui APBN 2025 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan pelaksana PT Bumi Delta Hatten dan pengawas lapangan CV Subang Raya Konsultan. Berdasarkan papan proyek, pekerjaan dimulai 26 September 2025 dan ditargetkan selesai 31 Desember 2025 dengan durasi 113 hari kalender serta masa pemeliharaan 180 hari.
Proyek tersebut diharapkan menjadi ikon baru pemberdayaan nelayan serta penggerak ekonomi pesisir di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. Setelah rampung, kawasan ini ditargetkan menjadi pusat aktivitas ekonomi, wisata, dan edukasi bagi masyarakat pesisir Sukabumi bagian selatan.






