Perjuangan Tati Warga Ciracap Membesarkan Empat Anak di Tengah Keterbatasan

LINGKARPENA.ID | Hidup dalam keterbatasan bukanlah pilihan. Namun kenyataan pahit itu harus dijalani Tati (42), seorang janda warga Kampung Ciawi Temen RT 003/003, Desa Mekarsari, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.

 

Sejak suaminya, Supyani, meninggal dunia delapan bulan lalu, kehidupan Tati bersama anak-anaknya semakin terpuruk. Ia harus berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas.

 

Saat ini Tati tinggal bersama empat anaknya yang masih kecil di sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 4 x 5 meter dengan kondisi yang jauh dari kata layak. Satu anaknya yang paling besar sudah menikah dan tidak lagi tinggal bersama.

 

Keseharian Tati untuk memenuhi kebutuhan hidup terkadang mendapat bantuan tetangga sekitar. Sesekali ia juga mendapat bantuan dari anak sambungnya, yakni anak almarhum suaminya dari pernikahan sebelumnya.

Baca juga:  Amabile Gadis Pajampangan yang Harumkan Nama Indonesia

 

Meski begitu, bantuan tersebut tentu tidak selalu datang setiap saat. Tati sebenarnya memiliki keinginan untuk bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun niat itu terhambat karena ia harus mengurus anak bungsunya yang masih bayi dan belum bisa ditinggalkan.

 

Ketua RT setempat, Unang, membenarkan bahwa kondisi kehidupan Tati saat ini cukup memprihatinkan, terlebih setelah ditinggal wafat oleh suaminya.

 

“Untuk kebutuhan hidupnya terkadang dibantu para tetangga. Memang seusia Tati masih bisa bekerja, tapi anak bungsunya yang masih bayi belum bisa ditinggal,” ujarnya.

Baca juga:  Gadis Belia Asal Depok Dinyatakan Hilang, Ini Ciri-cirinya

 

Menurut Unang, Tati pernah menerima bantuan dari Anggaran Dana Desa (ADD). Namun untuk bantuan sosial lainnya, hingga saat ini belum pernah diterimanya.

 

“Sepengetahuan saya Tati tidak pernah menerima bantuan sosial baik BPNT maupun PKH. Kalau bantuan dari ADD pernah ada dan diterimanya sekitar delapan bulan yang lalu saat suaminya masih ada,” tambahnya.

 

Pihak RT sendiri mengaku sudah pernah mengusulkan agar rumah Tati mendapat bantuan perbaikan dari pihak terkait. Namun hingga kini belum ada realisasi.

 

“Saya sendiri pernah mengajukan ke pihak terkait supaya ada perbaikan rumahnya, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” jelas Unang.

 

Sementara itu, Kepala SDN Cigebang, Dana, mengatakan bahwa dua anak Tati yang bersekolah di tempatnya tercatat sebagai penerima bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP).

Baca juga:  Mengenal Lebih Dekat Eni Septia Ramadhani Sang Putri Nelayan Ujunggengeng 2025

 

“Alhamdulillah anak Bu Tati atas nama Nurhasanah, kelas lima, tercatat sebagai penerima program PIP,” singkatnya saat dikonfirmasi Lingkarpena.id.

 

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pemerintah Desa Mekarsari belum memberikan keterangan. Lingkarpena.id telah mencoba beberapa kali menghubungi kepala desa setempat untuk meminta konfirmasi, namun belum mendapatkan respons.

 

Di tengah keterbatasan yang dihadapi, Tati tetap berusaha tegar menjalani hari-harinya demi masa depan anak-anaknya, sambil berharap adanya perhatian dan bantuan dari berbagai pihak agar kehidupannya bisa sedikit lebih baik.

Pos terkait