LINGKARPENA.ID | Suasana dini hari yang masih lengang di kawasan Ciaul Pasir, Kelurahan Subang Jaya, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, mendadak berubah menjadi kepanikan. Kobaran api melahap dua unit rumah warga pada Rabu, 22 April 2026, sekira pukul 04.22 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap.
Laporan kejadian diterima petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Sukabumi pada pukul 04.22 WIB. Hanya berselang tiga menit, dua unit kendaraan pemadam langsung meluncur menuju lokasi. Dengan jarak tempuh sekitar 4,3 kilometer, petugas tiba di lokasi pukul 04.37 WIB dan segera melakukan upaya pemadaman.
Di tengah gelapnya pagi yang belum sepenuhnya berganti terang, api terlihat cepat membesar, membakar bagian utama dua rumah milik warga. Warga sekitar yang terbangun oleh teriakan dan kepulan asap, berupaya membantu sebisanya sembari menunggu petugas tiba.
Danpos Damkar Kota Sukabumi, Dadi Kusmawandi, menyampaikan bahwa kebakaran diduga kuat dipicu oleh adanya korsleting listrik.
“Kami menerima laporan dari warga dan langsung bergerak cepat. Setibanya di lokasi, api sudah membesar dan menghanguskan dua rumah. Dugaan sementara penyebab kebakaran adalah korsleting listrik,” ujarnya kepada lingkarpena.id Rabu (22/4).
Proses pemadaman berlangsung sekitar 50 menit. Berkat kerja sigap petugas dari Regu Charlie yang dibantu Regu Alpha dan Regu Bravo, serta dukungan warga sekitar, api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya pada pukul 05.22 WIB.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian materiil ditaksir mencapai Rp65 juta. Dua kepala keluarga dengan total lima jiwa terdampak akibat kejadian ini.
Dadi menambahkan, pihaknya mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya listrik di rumah, terutama penggunaan instalasi yang tidak sesuai standar.
“Kami mengingatkan masyarakat agar rutin memeriksa instalasi listrik dan tidak menggunakan peralatan yang berpotensi menimbulkan korsleting, guna mencegah kejadian serupa,” tambahnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kebakaran bisa datang kapan saja, bahkan di saat sebagian orang masih terlelap. Di balik cepatnya kobaran api, ada kesigapan petugas dan solidaritas warga yang kembali membuktikan bahwa kebersamaan menjadi kunci dalam menghadapi musibah.






