SCG Raih Skor Keberlanjutan Tertinggi dari Dow Jones Sustainability Indices

Foto : SCG

LINGKARPENA.ID | SCG perusahaan terkemuka ASEAN asal Thailand, berhasil meraih skor keberlanjutan tertinggi dari Dow Jones Sustainability Indices (DJSI) dalam Kategori Bahan Bangunan. Pencapaian ini diraih berkat komitmen SCG terhadap pendekatan ESG 4 Plus, komitmen resmi perusahaan yang dipersonalisasi dari kerangka kerja global ESG (Environmental, Social and Governance). SCG telah meraih Peringkat No. 1 Dunia selama satu dekade penuh dan tetap berada dalam tiga besar dunia selama 14 tahun berturut-turut. Selain itu, SCG adalah organisasi pertama di ASEAN yang bergabung dengan DJSI sejak tahun 2004.

Roongrote Rangsiyopash, President & CEO SCG, mengatakan, “Pada 22 September 2023 lalu, SCG menerima skor tertinggi dari Dow Jones Sustainability Indices (DJSI) dalam kategori Bahan Bangunan. Prestasi ini adalah bukti dari praktik bisnis perusahaan yang selaras dengan pendekatan ESG 4 Plus. Sebagai hasilnya, SCG telah mengamankan peringkat No. 1 dunia selama satu dekade penuh dan secara konsisten berada dalam tiga besar dunia selama 14 tahun berturut-turut. Selain itu, SCG adalah organisasi pertama di ASEAN yang menjadi bagian dari DJSI sejak tahun 2004.

“Di luar DJSI, SCG juga diakui oleh indeks keberlanjutan global terkemuka lainnya, seperti ESG Risk Ratings – ESG Industry Top Rated untuk Konglomerat Industri dari Morningstar Sustainalytics dan MSCI ESG Ratings dengan peringkat AA untuk industri Bahan Bangunan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Investor global menggunakan tiga indeks keberlanjutan ini untuk memastikan hasil jangka panjang, pertumbuhan yang kuat, dan perkembangan sosial dan lingkungan yang berkelanjutan,” lanjut Roongrote.

Baca juga:  Tentang PT Semen Jawa, Tambang Semen di Sukabumi

Thammasak Sethaudom, Co-chair Sustainable Development Committee SCG, mengatakan, “Prestasi ini dapat tercapai berkat dedikasi SCG People yang bekerja berlandaskan pendekatan ESG 4 Plus perusahaan. ESG 4 Plus merupakan rumusan komitmen keberlanjutan SCG yang dipersonalisasi dari kerangka kerja global ESG (Environmental, Social, and Governance), yakni mencapai emisi nol bersih per tahun 2050 (Set Net Zero), menciptakan produk dan industri hijau (Go Green), menekan kesenjangan sosial (Reduce Inequality), yang dilakukan dengan cara merangkul kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan (Embrace Collaboration) serta menjunjung tinggi keadilan dan transparansi (Plus), terutama dalam pertumbuhan bisnis dan mitigasi dampak pemanasan global.”

Lanjut Thammasak, “Pada paruh pertama tahun ini, bisnis semen kami di Thailand meningkatkan proporsi penggunaan energi terbarukan sebesar 40%. Kami juga telah mempercepat pengembangan produk, layanan, dan solusi ramah lingkungan di bawah label SCG Green Choice yang menawarkan lebih dari 250 item. Selain itu, kami aktif berkolaborasi dengan mitra di seluruh dunia untuk mendorong inovasi hijau, menciptakan lapangan pekerjaan, dan menghasilkan pendapatan bagi UMKM dan masyarakat, yang bermanfaat bagi lebih dari 50.000 individu. Inisiasi terbaru kami adalah berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, sektor swasta, organisasi non-pemerintah, maupun generasi muda, untuk mendorong ASEAN menuju masyarakat rendah karbon dan berkelanjutan dengan menyelenggarakan ESG SYMPOSIUM 2023 yang akan berlangsung pada 5 Oktober di Thailand dan 2 November di Indonesia.”

Baca juga:  PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi Kembali Berikan Beasiswa Berprestasi Kepada 554 Pelajar Kabupaten Sukabumi

Di Indonesia, komitmen ESG 4 Plus diwujudkan melalui berbagai inisiasi, antara lain:

Lingkungan (Environmental)
Transisi energi melalui teknologi daur ulang AF (Alternative Fuel)/AR (Alternative Raw Material), yaitu fasilitas daur ulang limbah (contoh: sekam padi dan limbah industri) menjadi bahan bakar dan bahan baku alternatif dalam produksi semen. Sejak tahun 2021, teknologi ini telah menekan konsumsi bahan bakar fosil untuk operasional sebesar 3% dan meningkatkan penggunaan bahan baku alternatif sebesar 9.4%.
Pengembangan teknologi RDF (Refuse-Derived Fuel), bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar. Sampah yang diolah melalui metode co-processing akan dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif dalam proses produksi semen
Pemanfaatan biogas sebagai salah satu energi alternatif dalam proses produksi kertas kemasan. Biogas diperoleh dari hasil sampingan pengolahan limbah cair produksi melalui sistem anaerobik. Biogas dimanfaatkan sebagai bahan bakar unit pembangkit listrik, sehingga mengurangi gas rumah kaca dan penggunaan bahan bakar fosil.

Baca juga:  HGU Banyak Terlantar, Anggota DPRD Jabar; Pemda Harus Ambil Peran

Sosial (Social)
Pengembangan program Gerakan Desa Berdikari (Gesari) untuk mendukung kemajuan masyarakat desa melalui peningkatan bisnis sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui pemberian modal usaha serta pelatihan yang bekerja sama dengan dinas-dinas terkait; sejumlah UMKM binaan Gesari yang telah sukses di antaranya adalah Kelompok Budidaya Lele Lumbung Berkah, Keripik Pisang Kartini, Madu Tanjungsari, dan lain-lain.

Pemberian Beasiswa Sharing the Dream sejak 2012. Hingga 2023, lebih dari 4.000 beasiswa diberikan kepada para pelajar Indonesia tingkat SMA dan S-1. Beasiswa Sharing the Dream memberikan dana bantuan pendidikan, program pengembangan diri, serta pendanaan dan pendampingan penuh untuk proyek-proyek komunitas gagasan penerima beasiswa, seperti proyek pengolahan limbah tekstil berkelanjutan, budidaya maggot untuk pakan ternak, program generasi hijau untuk sekolah dasar di Sukabumi, dan lain-lain.

Tata Kelola (Governance)
Pembuatan regulasi dan Kode Etik SCG sebagai bagian dari upaya mendorong tata kelola perusahaan yang baik dan berkelanjutan
Dow Jones Sustainability Indices (DJSI) adalah indeks keberlanjutan pertama di dunia, didirikan melalui kerja sama antara S&P Dow Jones Indices dan RobecoSAM. DJSI mengevaluasi keselarasan operasi bisnis dengan pembangunan berkelanjutan dan melibatkan lebih dari 3.400 perusahaan terkemuka di lebih dari 60 industri di seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam penilaian.

Pos terkait