LINGKARPENA.ID | Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi di wilayah Kabupaten Sukabumi pada 14 hingga 15 Januari 2026 mengakibatkan ambruknya Tembok Penahan Tanah (TPT) di Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade.
Peristiwa tersebut tepatnya terjadi di Kampung Cigulingan RT 06/06, Desa Gunungsungging, dan berdampak pada akses jalan usaha tani serta lahan persawahan milik warga setempat.
TPT dengan tinggi sekitar 2,5 meter dan panjang kurang lebih 10 meter tersebut roboh pada Rabu dini hari, 16 Januari 2026, sekitar pukul 02.00 WIB. Ambruknya bangunan penahan tanah itu terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut dalam durasi yang cukup lama, sehingga menyebabkan kondisi tanah menjadi labil dan tidak mampu menahan tekanan air.
TPT yang roboh diketahui merupakan bagian dari Jalan Usaha Tani Cigulingan–Cipancur. Jalan tersebut selama ini menjadi akses penting bagi warga, khususnya para petani, untuk menuju area persawahan sekaligus sebagai jalur penghubung menuju Koperasi Desa. Akibat kejadian tersebut, aktivitas warga sempat terganggu, terutama dalam mengangkut hasil pertanian.
Selain merusak badan jalan, robohnya TPT juga berdampak langsung pada sawah milik warga yang berada di bawah struktur bangunan tersebut. Material runtuhan berupa tanah dan batu menutupi sebagian area persawahan, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian bagi petani.
Mandor setempat, Misbah, menjelaskan bahwa bangunan tersebut telah berdiri sekitar dua tahun sebelum akhirnya roboh. Ia menegaskan bahwa faktor utama penyebab ambruknya TPT adalah curah hujan yang tinggi dan terjadi secara terus-menerus.
“Kejadiannya pas hujan deras. TPT ini sudah dibangun sekitar dua tahun lalu. Karena hujan dengan intensitas tinggi, tanah menjadi jenuh air dan akhirnya tidak kuat menahan beban, sehingga TPT roboh,” ujar Misbah saat dikonfirmasi.
Ia juga menyampaikan bahwa setelah kejadian tersebut, Pemerintah Desa Gunungsungging langsung turun tangan melakukan penanganan awal untuk mencegah dampak yang lebih luas, terutama demi keselamatan warga dan kelancaran akses jalan.
“Alhamdulillah sudah ditangani oleh pemerintah desa. Penanganan sementara dilakukan agar jalan masih bisa dilewati dan sawah warga tidak semakin terdampak,” tambahnya.
Pemerintah desa bersama warga setempat saat ini masih melakukan upaya penanganan darurat, sambil menunggu langkah lanjutan berupa perbaikan permanen. Warga diimbau untuk tetap waspada, terutama saat hujan deras kembali terjadi, mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi melanda wilayah selatan Kabupaten Sukabumi dalam beberapa waktu ke depan.






