Seminar HATI, Dorong Kebangkitan Petani Indonesia melalui Pertanian Terpadu

Himpunan Kebangkitan Jemaah Tani Indonesia (HATI) saat menggelar seminar nasional pengelolaan tanah dan lahan pertanian. Seminar berlangsung di Balai Diklat Pertanian Pondok Pesantren Modern Dzikir Alfath, Kota Sukabumi.[foto:istimewa]

LINGKARPENA.ID | Himpunan Kebangkitan Jemaah Tani Indonesia (HATI) menggelar seminar nasional tentang pengelolaan tanah dan lahan pertanian di Balai Diklat Pertanian Pondok Pesantren Modern Dzikir Alfath, Kota Sukabumi. Kegiatan ini dihadiri jajaran pengurus DPP, DPW, dan DPD HATI se-Indonesia, dewan penasehat, hingga para anggota dan petani binaan.

 

Ketua Umum DPP HATI, Drs. Ustad Asep Rustandi, M.B.A, menegaskan bahwa seminar ini menjadi langkah nyata untuk meningkatkan kapasitas petani Indonesia yang ada di dalam struktur Organisasi HATI. “Seluruh pengurus DPP, DPW, dan DPD HATI mengikuti seminar pengelolaan lahan pertanian di Balai Diklat Pertanian Alfath ini,” ujarnya.

 

Ketua Dewan Penasehat DPP HATI, Prof. DR. K.H. Muhammad Fajar Laksana, CQM, M.M. P.HD, menyoroti keras persoalan kemiskinan di sektor pertanian yang menurutnya, hampir 48 persen angka kemiskinan nasional berasal dari kalangan petani. “Mayoritas petani hanya memiliki lahan sekitar 0,5 hektare dan tingkat pendidikan mereka masih rendah. Dari persoalan itulah HATI hadir sebagai gerakan kebangkitan petani Indonesia,” tegasnya.

Baca juga:  Wabup Iyos, Turut Tanam Perdana Sorgum di Desa Kertajaya Simpenan

 

Fajar menjelaskan, HATI tidak hanya fokus pada pertanian, tetapi juga membangun masa depan anak-anak petani melalui program beasiswa penuh hingga jenjang sarjana. Program tersebut dikombinasikan dengan pelatihan keterampilan, pendidikan agama, magang, hingga penyaluran kerja ke luar negeri.

 

“Anak-anak petani harus diangkat derajatnya. Mereka bukan hanya diberi ilmu kampus, tetapi juga keterampilan hidup agar mampu memutus rantai kemiskinan struktural,” katanya.

Baca juga:  Mewakili Distan Kab Sukabumi, Dua Penyuluh masuk 5 Besar pada Lomba Inovasi Tingkat Jabar

 

HATI juga menggagas program Integrated Farm atau pertanian terpadu, yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, pupuk organik, hingga energi alternatif dalam satu ekosistem mandiri. Melalui sistem tersebut, petani didorong untuk tidak lagi bergantung penuh pada pupuk kimia dan pakan buatan pabrikan.

 

“Kotoran sapi, kambing, dan ayam diolah menjadi pupuk organik bahkan bahan bakar alternatif. Jadi petani bisa menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan,” jelas Fajar.

 

Balai Diklat Pertanian Alfani sendiri telah memiliki peternakan sapi, domba, dan ayam yang seluruh limbahnya dimanfaatkan kembali menjadi pupuk dan energi. Model ini disebut sebagai contoh nyata pertanian modern berbasis kemandirian dan keberlanjutan lingkungan.

Baca juga:  Penyaluran Pupuk Subsidi Bermasalah, DPR: Ganti Dengan BLT untuk Petani

 

HATI juga menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat riset dan inovasi pertanian. Kerja sama itu difokuskan pada pengembangan pupuk cair, pupuk padat, pakan ternak, hingga teknologi budidaya yang efisien dan ramah lingkungan.

 

“Kami punya praktik dan pengalaman di lapangan, sementara BRIN punya kekuatan riset dan tenaga ahli. Ini akan menjadi kolaborasi besar demi melahirkan produk pertanian yang efisien, sehat, dan membuat petani tidak terus bergantung pada pemilik modal besar,” pungkasnya.

Pos terkait