LINGKARPENA.ID | Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 tahun 2025, Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas, menyerahkan secara simbolis santunan kepada keluarga berisiko stunting di wilayah Kecamatan Palabuhanratu. Acara berlangsung di UPTD Dalduk KB Wilayah Palabuhanratu, Senin (23/6/2025).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Camat Palabuhanratu, serta sejumlah undangan lainnya.
Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Sukabumi, Tia Fatimah, menjelaskan bahwa pemberian santunan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Harganas yang dilaksanakan serentak di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Sukabumi.
“Kegiatan ini dalam rangka memperingati Harganas ke-32 yang diselenggarakan serempak di semua kecamatan, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten,” ujar Tia.
Tia menambahkan bahwa di wilayah kerja Palabuhanratu dan Citarik, terdapat sebanyak 514 keluarga berisiko stunting yang perlu mendapatkan intervensi.
Sementara itu, Wakil Bupati Andreas menekankan pentingnya upaya pencegahan dan penurunan angka stunting sebagai bagian dari visi besar pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
“Pencegahan stunting sangat penting karena berkaitan langsung dengan upaya menciptakan generasi penerus yang sehat, kuat, dan tangguh. Ini sejalan dengan cita-cita bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa isu stunting menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan visi dan misi Pemerintah Kabupaten Sukabumi, terutama dalam membangun masyarakat yang sehat dan berkualitas.
“Setiap bulan kita adakan penyuluhan di posyandu, bahkan kader-kader sampai melakukan sweeping bila ada warga yang enggan datang. Ini bagian dari upaya memastikan intervensi berjalan optimal,” ungkap Andreas.
Lebih lanjut, Wabup Andreas mengimbau agar masyarakat, terutama pasangan remaja, menunda pernikahan dini. Menurutnya, praktik pernikahan usia muda menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya risiko stunting.
“Bagi remaja yang belum cukup usia menikah, tolong bersabar. Pernikahan dini bisa memicu berbagai persoalan, termasuk risiko stunting pada anak, serta kendala dalam administrasi kependudukan,” tutupnya.
Reporter : Rijal
Redaktur : Redaksi






