Oleh: Bunat Budhi
LINGKARPENA.ID | Asyik juga mengamati penggiat medsos. Sekedar curhat atau pamer gaya hidup sih bukan masuk dalam katagori penggiat medsos. Yang seperti ini secara spesifik banyak yang menyebut selegram. Meski rumpi dan tidak konstruktif dalam membangun karakter bangsa, tipikal seperti ini kita abaikan saja dulu.
Ada yang bikin “gatal” dari konten penggiat medsos. Coba perhatikan, banyak konten yang sepertinya mereka merasa seperti seorang wartawan. Siaran langsung atas sebuah kejadian, adalah salah satu contoh. Soal up date sih bisa jadi itu benar. Tapi validitas data dan informasi siapa yang jamin?
Tidak berlebihan bila informasi dari konten seperti ini bisa disebut informasi sampah. “Wartawan Medsos” mana tahu bagaimana sebuah kejadian harus diproses menggunakan kaidah jurnalistik.Narasumber yang tidak memiliki kapabilitas dan kompetensipun jadi sahih sebagai sumber berita. Lucunya, publik kok percaya dan menjadikan konten sebagai literasi.
Itu baru satu sisi dimana sebuah peristiwa dijadikan konten seperti layaknya produk jurnalistik. Satu sisi atau sudut pandang yang boleh jadi tak akan berdampak kegaduhan sosial.
Bagaimana konten yang berisi opini namun diperlakukan seperti produk jurnalistik ? Ini kan yang acapkali bikin gaduh sosial ! Contohnya saja seorang netter yang beropini kematian anak Gubernur Ridwan Kamil sebagai setingan dalam rangka pilpres. Ini kan konyol ! Dan yang lebih konyol lagi adalah opini macam ini dipercaya publik dan dijadikan sumber literasi.
Karena hal-hal seperti inilah, ketika mengangkat opini sebagai produk media akan selalu dibarengi dengan informasi yang memperlihatkan kompetensi si pembuat opini.
Informasi penulis.
Sumber: Penulis pembuat opini adalah salah seorang pengurus Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Sukabumi.






