LINGKARPENA.ID | Dalam proses evakuasi 71 Nelayan dan warga yang terjebak di eks jembatan dermaga PT. SBP di Kecamatan Tegalbuleud, beberapa pihak terkait terjun langsung dalam penanganannya, mulai dari Basarnas, BPBD, Rapi, Relawan, puskesmas dan Pemcam serta pemdes terdekat.
Informasi di dapat, dalam penanganan evakuasi, untuk lokasi pendaratan pesawat semula akan di pusatkan di Lapang Rancaerang Tegalbuleud. Akan tetapi karena terkendala cuaca, ahirnya landing dilakukan di Satrad 216. Cibalimbing Surade.
Dijelaskan Kasat Pol Airud Polres Sukabumi AKP Tenda Sukendar, S.H., M.H, evakuasi sedang berlangsung, hingga pukul 12.35 WIB baru delapan warga terjebak yang berhasil dievakuasi.
Sementara Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi Deden saat dikonfirmasi Lingkar Pena.id menuturkan, dalam pelaksanaan evaluasi, kewenangan informasi ada pada Basarnas.
“Untuk informasi kewenangannya ada di Basarnas. Hari ini memang sudah dilakukan evakuasi melalui jalur udara, langsung dikirim ke Satrad Cibalimbing secara bertahap,” ujar Deden.
Camat Tegalbuleud Drs. Encep Iskandar kepada lingkar pena.id menyampaikan, bahwa dalam penanganan dan evakuasi korban terjebak di dermaga PT. SBP, pihaknya telah berkoordinasi dan meminta bantuan kepada para camat dan Pemdes di Pajampangan, termasuk pihak Puskesmas.
Sejumlah ambulan desa yang akan bergabung dalam pelaksanaan evaluasi hanya bisa menunggu di pintu masuk Kompleks Satrad 216 Cibalimbing. Mereka belum mendapat ijin untuk masuk lokasi.
Pantauan lingkar pena.id dilapangan sejak pagi hari sejumlah ambulan desa dan ambulan Puskesmas sudah mulai berdatangan ke komplek Satrad 216 Cibalimbing. Dan Hanya ambulan Puskesmas dengan tenaga medisnya yang diperkenankan masuk. Sementara ambulan desa harus terparkir di pintu masuk.
Beberapa ambulan yang nampak hadir, sebut saja ambulan Puskesmas Ciemas, Puskesmas Cimanggu, Puskesmas Buniwangi, Puskesmas Ciracap, Puskesmas Tegalbuleud dan Puskesmas Tamanjaya.
Pemdes Cibodas Kecamatan Cibitung, pemdes Nagraksari Jampangkulon, pemdes Pasiripis Kecamatan Suradr, pemdes Ciraca, pemdes Cidahu Kecamatan Cibitung, pemdes Bantar Agung Jampangtengah, dan pemdes Langkapjaya Lengkong.
“Supir ambulan Desa Bantaragung, Abah Halim, menuturkan bahwa dirinya akan siap menunggu perintah atasannya walau harus menunggu. Saya manfaatkan untuk istirahat,” ujar Abah Halim.
Dua supir ambulan Desa, Cidahu dan Desa Cibodas Kecamatan Cibitung, menghabiskan waktu menunggu itu sambil ngopi dan bercengkrama dengan teman teman sesama supir ambulan.
Sementara supir ambulan Desa Nagraksari Jampangkulon, Arman, mengaku tak tahu alasan belum diberi ijin masuk itu. Meskipun demikian, akunya, waktu menunggu ia gunakan untuk istirahat. Supir ambulan desa Ciracap, Pupu, tak komentar soal ini. Ia hanya senyum sambil menyeruput kopi.
Diketahui, para supir ambulan desa yang ada di Pajampangan solid dan siap dilibatkan dalam kegiatan kemanusiaan. Sekarang di Pajampangan telah terbentuk dua komunitas, yakni Team Ambulan Pajampangan (Tajam) dan komunitas Peduli Umat Tanpa Batas (PUAS).






