LINGKARPENA.ID | Pelayanan RSUD Jampangkulon yang dikeluhkan keluarga pasien, terkait diduga adanya kesalahan pemasangan selang saat melakukan operasi terhadap pasien atas nama Isop (50) warga Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, pihak RSUD Jampangkulon buka suara.
Saat dilakukan klarifikasi pihak RSUD Jampangkulon yang diwakili oleh Dr. Lusi Apriani selaku Kepala Bidang Pelayanan dan Lia Desti, Humas. Dalam keterangannya Dr. Lusi memaparkan, apa yang dikeluhkan keluarga pasien, yakni adanya kesalahan pemasangan selang saat melakukan tindakan operasi, ia menampik dan menyatakan semua tindakan yang diambilnya telah sesuai prosedur.
“Kami sudah melakukan investigasi terhadap dokter bedahnya. Saat itu setelah dilakukan pemeriksaan, pasien tersebut ada kegawat daruratan diparu parunya. Paru paru sebelah kanan tidak mengembang, berarti harus dilakukan tindakan segera,” papar Dr. Lusi.
Lanjut, kata Dr Lusi, sebelum dilakukan tindakan operasi segala hal telah ditempuh sesuai prosedur. Itu mulai dari minta izin dan menjelaskan serta memberi informasi kepada pihak keluarga pasien.
“Kalau tindakan tentu ada resiko ya. Dan baik buruknya pun sudah dijelaskan kepada keluarga pasien,” ujarnya.
Saat pemasangan selang pun, sambung Lusi, sudah sesuai prosedur. Indikasi pemasangan selang terpasang dengan benar bisa dilihat dari adanya gelembung udara pada botol WSD (watet sealed drainage).
“Setelah dua hari kondisi pasien tidak menjukan perkembangan, dan paru parunya tidak mengembang. Dan dokter pun menduga ada penyebab lain. Ahirnya kami lakukan tindakan sesuai prosedural yakni melakukan rujukan ke rumah sakit sesuai penyakit pasien, yakni rumah sakit spesialis paru di Bogor. Ini bentuk upaya kami untuk menyelamatkan pasien,” papar Lusi.
Terkait dugaan kesalahan pemasangan selang, kata Lusi, jelas tidak mungkin. Menurutnya kalau pemasangan tidak maksimal itu dimungkinkan karena beberapa faktor, karena ada gerakan pasien atau karena posisi selang yang tergeser saat dilakukan pemindahan pasien, karena posisi selang yang berada disekitar payudara, sehingga sangat rentan bergeser karena gerakan.
“Apa yang kami sampaikan ini tidak mengada-ada. Kami sampaikan ini sesuai kenyataan. Kami terikat dengan sumpah dokter,” tegas Lusi.
Dia menyebut penjelasan atau klarifikasi ini juga sudah disampaikan kepada keluarga pasien dan keluarga pasien pun memahaminya.
“Nantipun kami akan melakukan pertemuan dengan pihak keluarga pasien untuk menjelaskan semuanya. Alhamdulilah sekarang pasiennya sudah membaik,” pungkas Lusi.
Sementara kasus yang dialami Isop warga Ujunggenteng Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi ini pun pernah dialami oleh warga Jampangkulon. Sigit (30) warga Kelurahan/Kecamatan Jampangkulon menjelaskan, keluarganya pernah mengalami kasus yang mirip.
“Kejadian yang dialami Ibu Isop itu persis yang dialalmi Ibu saya. Kasusnya seperti begitu juga. Ya ada satu tahun kebelakang kejadiannya. Tapi kalau kasus serupa terulang, saya pikir ini sebuah keteledoran, ketidak profesionalan tim Nakes RSUD Jampangkulon,” singkatnya.






