LINGKARPENA.ID | Sungguh malang nasib Ijud (49 ), warga Kampung Mekarasih RT 014/008, Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Ia bersama kedua anaknya, Yadi ( 15 ) dan Tini ( 13 ), tinggal dan menempati gubuk reyot ukuran 2,5 x 3 meter. Selain kumuh dan nyaris rubuh, tak ada tempat masak pula.
Untuk menghidupi kedua anaknya Ijud sehari hari bekerja sebagai pemulung. Penghasilan dari usahanya itu diakuinya tak menentu. Jika saat mujur bisa mengantongi uang tak lebih dari Rp 10 ribu.
Sebaliknya jika rejeki tak berpihak padanya tak sepeserpun uang yang ia bawa pulang. Jika posisi itu, untuk makan Ijud dan kedua anaknya mendapat bantuan tetanggannya.
Saat lingkarpena.id mencoba berkomunikasi dengan Ijud, pria malang ini ( maaf ) sepertinya memiliki keterbelakangan mental, termasuk kedua anaknya, Pandi dan Tini. Meskipun demikian rasa tanggungjawab Ijud sebagai kepala keluarga patut diapresiasi. Ia masih mau berusaha untuk kehidupan kedua anaknya.
Ijud mengaku tak memiliki Kartu Tanda Penduduk (E-KTP) dan hanya memiliki selembar Kartu Keluarga ( KK ) usang yang dikeluarkan tanggal 26 Juli 2008.

“KTP mah kapungkur gaduh tapi ayeuna mah tos teu aya, tos seep,” kata Ijud.
Lilis (67) tetangga Ijud, mengungkapkan, sejak isterinya Ijud, Deti (39), meninggal, Pandi dan Tini sehari hari bersama Lilis.
“Mereka sudah saya anggap anak sendiri. Jika Ijud keluar mencari rongsokan, si Pandi dan adiknya selalu main di rumah saya,” ujar Lilis.
Sosok Lilis bagi Pandi dan Tini layaknya ibu mereka. Dan diakui Lilis, kedua anak Ijud itu sangat dekat dengannya.
“Abdi ka emut keneh waktos ibuna Pandi Bade pupus. Tah Dina lahunan abdi pupusna Oge,” kenang Lilis.






