Mengenal Sosok KPH Djoyokusumo, Melalui Peringatan Haulnya ke-96: Ulama Kharismatik yang Patut Diteladani

LINGKARPENA.ID | Tepat di desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, yang merupakan salah satu jalur pendakian menuju Puncak Gunung Salak, kita akan mendapati sebuah kompleks Pemakaman Keramat, bernama Astana Girijaya.

 

Di kompleks pemakaman tersebut, terbaring sosok ulama sekaligus bangsawan yang berasal dari Trah Mangkunegaran Surakarta Hadiningrat. Beliau bernama asli Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Djoyokusumo, yang dikenal oleh masyarat setempat dan para peziarah sebagai Kyai Muhammad Santri atau Eyang Santri.

 

Beliau dilahirkan di Keraton Mangkunegaran Surakarta pada Tahun 1771 dan wafat di Girijaya, Cidahu Sukabumi pada 31 Mei 1929 pada usia 158 tahun. Kyai Muhammad Santri merupakan putra pasangan KPH Prabuwijoyo I dan Tri Kusumo, putri Cakraningrat dari Madura. Beliau juga merupakan cucu Pangeran Sambernyowo (Raden Mas Sa’id), pendiri Trah Dinasti Mangkunegaran.

 

Saat Perang Jawa yang berlangsung antara tahun 1825-1830, Pangerang Djoyokusumo (saat itu belum Bernama Muhammad Santri) berperan penting dalam mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, yang merupakan paman beliau.

Baca juga:  Bocah 11 Tahun dari Banjaran Viral Berkat Aksi Tangkap Ular, Kisah Dika dan Perjuangan Hidup Keluarganya

 

Bersama Raja Kasunanan Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwono VI, Pangeran Djoyokusumo lah yang mencarikan dana yang dibutuhkan oleh Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa dalam menghadapi Kolonial Belanda.

 

Disamping memiliki jiwa patriot yang tinggi, Eyang Santri juga merupakan sosok ulama kharismatik sekaligus tokoh Sufi Agung. Melalui tempaan tangan dingin beliau, lahirlah tokoh-tokoh besar bangsa, diantaranya; Mangkungoro IV, Sunan Paku Buwono X, Mangkunegoro VII, Dr. HOS Cokroaminoto, Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Dr. Sutomo, RM. Abdul Karim Pringgodigdo, Moh. Yamin dan Soekarno (Presiden RI ke-1).

 

Tepat di hari minggu, 8 Juni 2025 lalu telah diselenggarakan acara Peringatan Haul ke-96 KPH. Djoyokusumo atau Kyai Muhammad Santri atau Eyang Santri. Acara Haul ini digagas oleh Misbahul Mustofa.

 

“Setelah mendapatkan restu langsung dari cucu Eyang Muhammad Santri, yakni Ibu Hj, Raden Ayu Achdiyati Samita atau yang dikenal dengan Ibu Hj, RAY Tito, acarapun diselenggarakan di area Astana Girijaya secara sederhana namun penuh hikmat dengan mengusung tema; Mengamalkan Agama, Tawadhu Kepada Kepentingan Bangsa dan Negara,” ucap pria yang akrab disapa Gus Misbah ini.

Baca juga:  Persinggahan dan Kisah Pilu Hidup Mak Yati, Perlu Perhatian Pemerintah Kabupaten Sukabumi

 

Gus Misbah menerangkan bahwa acara diawali dengan Khataman Al Qur’an oleh santri-santri dari Pesantren Tahfizh Al Ittihad Legenda Wisata Cibubur. Dilanjutkan dengan ziaroh, pembacaan Maulid Nabi SAW, Tahlilan dan acara puncaknya diselenggarakan pada malam harinya.

 

“Ada juga manaqib atau biografi singkat Eyang Muhammad Santri disampaikan langsung oleh cucu beiau, Ibu Hj. RAY Achdiyati Samita,” terangnya.

 

Pria yang juga merupakan keluarga Trah Mangkunegaran ini menceritakan, tausiah agama yang disampaikan oleh Ustadz Heri Khoiruddin Purnomo, SQ, SHI. Melalui tausiahnya, sang Ustadz, kata Gus Misbah menyampaikan bahwa Eyang Santri adalah sosok tauladan yang mampu menyatukan antara jiwa agamis dan nasonalis.

 

“Beliau merupakan sosok panutan yang patut dijadikan tauladan bagi generasi umat Islam yang hidup di Negara Kesatuan Indonesia. Perjuangan beliau yang gigih, patriotisme yang tinggi kecintaan tanah air yang murni ditambah spiritualisme-agama yang suci,” imbuhnya

Baca juga:  Hidup di Rumah Reyot, Lansia di Surade Bertahan dengan Sakit Pinggang Menahun

 

Terakhir, kata Gus Misbah Peringatan Haul Eyang Santri kali ini, bertujuan mengingatkan kembali kepada masyarakat lebih luas, akan perjuangan dan peran penting Eyang Santri dalam perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Upaya beliau dalam penyebaran Agama Islam, terutama tentang ajaran Tasawwuf dengan ajaran Martabat Tujuh-nya. Sebagai penganut Thoriqoh As-Sattariyah, beliau rela meninggalkan gemerlap keraton dan memilih untuk berjuang dan banga serta membina spiritual masyarakat.

 

“Dengan harapan, acara Haul Eyang Santri akan terus diperingati setiap tahunnya, agar menjadi edukasi bagi generasi penerus Bangsa. Sehingga mereka tidak kehilangan tauladan ideal dalam dalam kerangka beragama dan berbangsa,” tutupnya.

 

Sebagai informasi, turut hadir dalam acara tersebut, beberapa Lembaga dan organisasi, diantaranya; Garda Mangkunegaran, PAC Ansor Kecamatan Cidahu, MUI Cidahu, Pesantren Tahfizh Qur’an Al Ittihad Legenda Wisata Cibubur.

Pos terkait