LINGKARPENA.ID | Pada event Kembar Wijaya grasstrack yang digelar 19 hingga 20 Juli 2025, di Sirkuit Tegalaja, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, menjadi sebuah harapan besar bagi banyak pihak.
Apalagi banyak pembalap cilik yang juga ikut ambil bagian sebagai peserta di kegiatan olahraga yang menguras adrenalin itu.
Para crosser senior yang ikut terjun di kegiatan itu maupun penonton menilai, banyak pembalap cilik yang cukup potensial. Khususnya di kelas minimoto.
“Acara seperti ini memang bagus buat anak-anak untuk menambah jam terbang. Saya melihat para rosser cilik yang ikut menjadi peserta talentanya bagus-bagus. Saya yakin di masa depan mereka bisa harumkan nama Indonesia,” ucap salah seorang crosser senior asal Sukabumi.
Dari sekian crosser cilik yang hadir di event Kembar Wijaya grasstrack itu, M. Rifan dan M. Gibran merupakan crosser cilik asal Pajampangan. Penampilannya menyita perhatian penonton.
Gibran, 10 tahun, bocah asal Kampung Ciawitali, Kecamatan Jampangkulon ini adalah putra kedua Bripka Endra Sandila, anggota Polri yang bertugas di wilayah Sukabumi. Di usianya yang masih belia ia mampu menunjukan kepiawaiannya memacu kuda besi dilintasan balap.
Pada kejuaraan Kembar Wijaya itu kedua crosser cilik, Rifan Maulana dan Gibran, masuk di lima besar, Gibran meraih juara 5 dan Rifan diposisi ke tiga.
“Gibran memang dari kecil sudah tertarik balapan. Kami sebagai orang tua mendukung penuh. Yang penting dia semangat dan tetap utamakan keselamatan,” ujar sang ayah, Bripka Endra Sandila.
Meskipun jam terbang kedua crosser cilik ini masih seumur jagung namun ini menjadi harapan besar bagi masyarakat Pajampangan untuk memiliki atlit olahraga otomotif berkelas dunia. Dan kini kedua nama croser cilik ini mulai dikenal dikalangan penggemar grasstrack di Pajampangan.
Dengan kemunculan dua pembalap cilik berbakat ini Rif’an dan Gibran—wilayah Pajampangan kembali bergairah di dunia grasstrack. Tak berlebihan jika masyarakat mulai berharap lahirnya pembalap-pembalap nasional dari selatan Sukabumi.
“Dulu Pajampangan banyak melahirkan pembalap tangguh, sekarang muncul lagi generasi baru. Rif’an dan Gibran jadi kebanggaan kita semua,” ujar Bagya, paman Rif’an, yang turut aktif membina pembalap cilik di Cibitung.






