Kisah Pilu Pasutri Lansia Sukabumi Tinggal di Gubug Reyot, Miliki Jiwa Nasionalisme Tinggi

LINGKARPENA.ID | Kisah pilu datang dari Kampung Batusapi, Kelurahan Palabuhanratu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Sepasang suami istri (Pasutri) lansia, Ijang (64 Tahun) dan Sulastri (42 Tahun) dengan satu anak, mereka tinggal di rumah kayu yang lapuk dan tak layak huni.

 

Kondisi rumah yang reyot dan bocor membuat keluarga ini bertahan hidup dalam ketidaknyamanan. Saat hujan, air merembes masuk dan terpaan angin kencang membuat rumah bergetar.

 

“Kami tetap bertahan di dalam rumah walau sering ketakutan kalau hujan deras datang,” kata Ijang kepada awak media.

 

Minim perabotan, hingga papan berlubang yang menjadi tempat tidur, menjadi potret keseharian keluarga ini. Pendapatan sang suami yang hanya bekerja serabutan membuat mereka kesulitan memperbaiki rumah. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari hari pun sulit tercukupi.

Baca juga:  Polisi Tetapkan SRP Menjadi Tersangka di Kasus Rudapaksa Finalis Putri Nelayan Palabuhanratu 2024

 

Pasutri lansia ini sudah hampir 10 tahun menetap di rumah yang berdampingan langsung dengan cagar alam. Kondisi bangunan rusak parah sejak 4–5 tahun terakhir.

 

“Kalau hujan pasti bocor. Plafon belakang rimah sudah rusak. Makanya monyet gampang masuk ke dapur. Nasi dan ikan, sering di jamahnya,” keluh Ijang.

 

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ljang hanya bisa bekerja serabutan,

Baca juga:  Rame, Ornamen Penyu Gado Bangkong Palabuhanratu Hilang, Ini kata Sekda

kadang menjadi kuli, kadang melaut. Dikatakanya ia sudah mengajukan proposal bantuan perbaikan rumah ke Pemkab Sukabumi, namun masih nihil. Ia berharap adanya uluran tangan untuk perbaikan rumahnya.

 

“Mudah mudahan suatu hari nanti Pemerintah bisa melihat kondisi kami ini,” pintanya.

 

Ketua RW 01, Habib M. Fahmi Assegaf, mengaku sudah beberapa kali mengusulkan bantuan, namun hingga kini belum terealisasi.

 

“Kami sudah mencoba meminta bantuan ke dinas terkait namun

hingga kini belum ada realisasinya,” terangnya.

 

Menurut Habib, di wilayah RW 01 terdapat sekitar 518 KK, mayoritas bekerja sebagai petani, tukang ojek, dan buruh harian lepas. “Banyak warga yang hidupnya pas-pasan, tapi kasus rumah Mang Ijang ini sudah sangat mendesak. Genteng bocor, dinding bolong. Sayang kalau terus dibiarkan,” tegasnya.

Baca juga:  Bupati Sukabumi Hadiri Apel Pasukan Operasi Ketupat Lodaya 2025

 

Meskipun Ijang hidup dalam keterbatasan, menjelang HUT RI ke 80, di rumah reyot milik Ijang itu tak ketinggalan memasang bendera merah putih. Ini menunjukan simbol kecil yang mengingatkan bahwa cinta pada negeri tak selalu datang dari gedung mewah, tapi kadang justru tumbuh di rumah yang bolong dimakan usia.

Pos terkait