LINGKARPENA.ID | Duka menyelimuti Kampung Leuwi Nanggung, Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi. Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun berinisial NS meninggal dunia, meninggalkan tanda tanya besar di tengah keluarga dan masyarakat sekitar.
Kepergian NS bukan hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga gelombang spekulasi. Video yang sempat beredar luas di media sosial memperlihatkan kondisi bocah tersebut saat dirawat di RSUD Jampangkulon. Wajahnya tampak lebam, terutama di sekitar mata yang membiru. Di bagian pahanya terlihat luka terbuka yang memunculkan beragam dugaan di ruang publik.
Dalam rekaman itu, sang ayah setia mendampingi di sisi tempat tidur. Dengan suara lirih, ia memberi semangat kepada anaknya yang terbaring lemah. Tak lama setelah momen tersebut, NS menghembuskan napas terakhir.
Narasi dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pun cepat menyebar. Bahkan muncul kabar tak terkonfirmasi yang menyebut adanya dugaan penganiayaan oleh orang tua tiri. Namun, aparat penegak hukum meminta masyarakat menahan diri.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Sukabumi, AKP Hartono, menegaskan bahwa penyelidikan masih berjalan. Pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kematian sebelum hasil autopsi resmi diterima.
“Proses autopsi dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian dan menindaklanjuti berbagai narasi yang berkembang,” ujarnya kepada awak media, Jumat (20/2/2026).
Untuk kepentingan tersebut, jenazah NS dibawa ke RS Bhayangkara Secapa di Sukabumi. Di ruang forensik itulah, jawaban ilmiah diharapkan dapat mengurai simpul kabar yang simpang siur.
Sementara itu, unggahan duka sang ayah di Facebook menggambarkan betapa mendadaknya peristiwa ini. Ia menuliskan bahwa beberapa hari sebelumnya, putranya masih bermain dan bercanda seperti biasa. Kini, kenangan itu tinggal cerita.
Di kampung halaman, warga berbicara pelan tentang kejadian tersebut. Ada rasa prihatin, ada pula kegelisahan. Polisi telah memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan berbagai barang bukti guna memastikan setiap fakta terungkap secara terang.
Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Dalam era media sosial, kabar dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Karena itu, hasil autopsi dari tim forensik akan menjadi pijakan utama dalam menentukan langkah hukum berikutnya.
Di tengah suasana berkabung, satu hal yang pasti: sebuah keluarga tengah berjuang menerima kehilangan. Sementara publik menunggu kepastian, jawaban atas kematian NS kini berada di tangan penyelidikan yang masih berjalan.






