Bertahan dengan Daun Rebus dan Secangkir Harapan: Kisah Ani di Sudut Jampangtengah

LINGKARPENA.ID | Di sebuah rumah kontrakan sederhana di Kampung Pasirangin, Desa Jampangtengah, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, hidup seorang perempuan bernama Ani (57) dalam sunyi yang panjang. Di ruang sempit yang sekaligus menjadi warung kopi kecilnya, Ani bertahan dengan tubuh yang semakin melemah, namun tekad yang belum runtuh.

 

Sudah berbulan-bulan ia tak merasakan nasi. Bukan karena pantangan, melainkan karena pilihan pahit: beras yang seharusnya untuk dirinya, lebih baik diputar agar warung kecilnya tetap mengepul meski jarang pembeli datang. Untuk menahan lapar, ia merebus daun singkong atau daun pepaya—sepiring kecil yang ia bagi untuk sehari.

 

“Saya sudah tiga bulan tidak makan nasi. Kalau lapar, ya rebus daun saja,” ucapnya lirih.

 

Ani menderita stroke dan asam urat akut. Sejak 2018, kondisi kakinya kian memburuk hingga sulit berjalan. Ia lebih sering berpegangan pada dinding atau perabot seadanya. Luka akibat sering menyeret tubuh membuat sebagian daging di bagian bokongnya hilang karena gesekan. Rasa sakit menjadi teman sehari-hari, tetapi ia tak punya banyak pilihan selain bertahan.

Baca juga:  HGU Banyak Terlantar, Anggota DPRD Jabar; Pemda Harus Ambil Peran

 

Warung kopi sederhana itu menjadi satu-satunya sandaran hidup. Kadang ada pembeli, kadang sepi berhari-hari. Sesekali ada orang yang iba lalu memberinya sedikit uang. Namun kebutuhan tak pernah berhenti datang.

 

Ironisnya, rumah yang ia tempati bukan miliknya. Kontrakan itu disewa Rp250 ribu per bulan, dan kini sudah dua bulan menunggak. Air bersih pun tak tersedia. Untuk kebutuhan minum dan memasak, ia membeli dua galon air seharga Rp10 ribu yang diantar ojek—ongkosnya pun belum mampu ia bayar.

Baca juga:  Presiden Jokowi Anugerahi Gelar Pahlawan Nasional untuk Alm KH Ahmad Sanusi di Istana Negara

 

“Kalau ditagih kontrakan, saya cuma bisa nangis. Mau pindah juga ke mana,” tuturnya.

 

Ani sebenarnya ber-KTP Kampung Cibandung, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong. Namun hidup membawanya berputar-putar hingga kini tinggal sendiri dalam keterbatasan. Ia mengaku hubungan dengan kedua anaknya yang kini telah dewasa tidak lagi harmonis.

 

Puluhan tahun lalu, ia pernah meninggalkan mereka saat masih kecil. Bukan tanpa alasan. Ani mengisahkan pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Demi menyelamatkan diri, ia memilih pergi. Keputusan itu kini menjadi luka yang belum sembuh di antara dirinya dan anak-anaknya.

 

“Anak saya bilang dulu saya tinggalkan mereka waktu kecil. Tapi saya pergi karena sering dipukul suami. Saya tidak kuat,” kenangnya.

Baca juga:  36 Tahun Mengabdi, Ini Aktivitas Lain sang Guru Honorer di Sukabumi

 

Seiring waktu, tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Sejak kakinya sakit dan tak bisa bekerja normal, hidupnya semakin terpuruk. Warung kopi yang berdiri di depan kontrakan menjadi harapan terakhir agar ia tetap bisa membeli kebutuhan sehari-hari.

 

Di sela rasa nyeri yang kerap kambuh, Ani masih menyimpan harapan sederhana: bisa berobat, melunasi tunggakan kontrakan, dan menambah sedikit modal usaha agar warungnya lebih layak.

 

“Kalau ada pinjaman atau bantuan, saya mau berobat dan buat modal warung lagi,” katanya pelan.

 

Di sudut Jampangtengah, Ani bertahan dengan daun rebus dan secangkir kopi yang kadang tak sempat ia nikmati sendiri. Tubuhnya mungkin melemah, tetapi keinginannya untuk tetap berdiri—meski harus berpegangan—masih menyala.

Pos terkait