LINGKARPENA.ID | Di wilayah Pajampangan, kawasan selatan Kabupaten Sukabumi, suasana bulan suci Ramadhan pada era 1980-an memiliki warna tersendiri. Saat itu, sebagian besar wilayah belum teraliri listrik. Malam-malam panjang diterangi lampu minyak atau sentir, sementara suara-suara dari kejauhan menjadi penanda kehidupan yang tetap berdenyut hangat di tengah keterbatasan.
Di tengah sunyinya gelap malam, radio menjadi benda paling berharga di rumah-rumah warga. Tak semua keluarga memilikinya. Hanya sebagian warga yang tergolong mampu yang bisa membeli radio berbaterai besar. Namun keberadaannya tak pernah menjadi milik pribadi semata. Radio justru menjadi milik bersama.
Menjelang waktu berbuka puasa, hampir di setiap sudut kampung terdengar suara siaran dari studio atau pemancar lokal. Gelombang radio menyatukan kampung-kampung yang berjauhan oleh perbukitan. Dari perangkat sederhana itu mengalun lagu-lagu dangdut, sandiwara radio, dongeng Sunda, hingga pagelaran wayang golek.
Ramadhan menjadi momentum paling dinanti. Dongeng Sunda yang disiarkan menjelang magrib selalu menjadi acara favorit. Anak-anak hingga orang tua berkumpul di rumah tetangga yang memiliki radio. Mereka duduk melingkar di lantai, sebagian memejamkan mata, membayangkan setiap adegan yang diceritakan.
Cerita-cerita legendaris seperti “Sirawing”, “Si Buntung Jago Tutugan”, dan “Satria Madangkara” begitu melekat dalam ingatan generasi masa itu. Tokoh-tokohnya seolah hidup di tengah masyarakat, menjadi bahan perbincangan selepas tarawih.
“Kalau sudah mau magrib, anak-anak pasti sudah kumpul di rumah Mang Ujang yang punya radio paling jernih suaranya,” kenang Abah Dede (68), warga Pajampangan, saat ditemui baru-baru ini.
“Kami menunggu dongeng sambil menahan lapar. Begitu terdengar suara pembawa acara, rasanya senang sekali. Itu hiburan paling mahal waktu itu.”
Menurutnya, radio bukan sekadar alat hiburan. Radio adalah penghubung informasi dan perekat kebersamaan. Jadwal imsak dan waktu berbuka pun sering kali diketahui dari siaran tersebut.
Hal senada disampaikan Ema Siti (63), yang mengaku selalu merindukan suasana Ramadhan tempo dulu. “Sekarang semua sudah ada televisi dan handphone. Tapi dulu, suara radio itu terasa lebih hangat. Kami mendengarkan bersama-sama. Kalau ada cerita lucu, semua tertawa bareng. Kalau ceritanya sedih, suasana ikut hening,” ujarnya.
Keterbatasan justru melahirkan kedekatan sosial. Warga tak segan berbagi baterai atau memperbaiki antena bersama agar suara tetap jernih. Bahkan tak jarang radio diletakkan di dekat jendela agar suara siaran bisa terdengar hingga ke luar rumah, sehingga tetangga yang tidak kebagian tempat tetap dapat menyimak.
Di bulan suci, suara dongeng dari radio menjelang buka puasa seolah menjadi alarm kebersamaan. Ketika kisah mencapai bagian klimaks, tak lama kemudian adzan berkumandang dari surau terdekat. Anak-anak berlarian pulang, sementara orang dewasa menyiapkan hidangan sederhana untuk berbuka.
Kini, listrik telah menjangkau hampir seluruh pelosok Pajampangan. Televisi, internet, dan telepon pintar menggantikan peran radio sebagai pusat hiburan keluarga. Namun bagi generasi 80-an, suara radio di bulan Ramadhan adalah kenangan yang tak tergantikan.
“Gelapnya malam dulu bukan berarti sepi,” tutur Abah Dede pelan. “Karena ada radio yang membuat kampung terasa hidup.”
Ramadhan di Pajampangan era 80-an bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang kebersamaan yang terjalin lewat gelombang suara. Radio sederhana itu menjadi cahaya di tengah kegelapan, menyatukan warga dalam cerita, tawa, dan harapan.






