LINGKARPENA.ID | Kisah mengharukan datang dari Kampung Cigaru, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Seorang pria lanjut usia, Jaenudin (65), menjalani kehidupan penuh keterbatasan bersama putri semata wayangnya, Zahra (12), yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Sejak sang istri meninggal dunia beberapa tahun lalu, Jaenudin harus menjalani hidup sebagai orang tua tunggal. Di usia yang tak lagi muda, ia harus berjuang mencari nafkah sekaligus membesarkan anaknya agar tetap bisa bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Keduanya kini tinggal di rumah peninggalan orang tua Jaenudin yang berukuran sekitar 9 x 6 meter. Rumah sederhana tersebut kondisinya sudah memprihatinkan dan jauh dari kata layak huni. Dinding rumah terlihat rapuh dan sebagian telah lapuk dimakan usia, sementara atapnya mulai rusak.
Bangunan yang diperkirakan telah berdiri sejak puluhan tahun lalu itu belum pernah mendapat perbaikan besar. Setiap kali hujan turun, Jaenudin dan putrinya harus dihantui kekhawatiran akan kebocoran hingga kerusakan bangunan yang semakin parah.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Jaenudin mengandalkan pekerjaan serabutan. Apa pun pekerjaan yang bisa ia lakukan akan dijalani, meskipun kondisi fisiknya sudah tidak sekuat dahulu. Penghasilan yang tidak menentu membuat mereka harus hidup sangat sederhana.
Ironisnya, di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Jaenudin mengaku jarang mendapatkan bantuan sosial. Ia hanya pernah menerima bantuan beras dari pemerintah desa satu kali beberapa waktu lalu.
“Pernah dapat bantuan beras dari desa sekali, setelah itu tidak ada lagi. Padahal kondisi rumah saya seperti ini,” tuturnya.
Padahal, kondisi rumah yang ditempatinya dinilai sangat layak untuk mendapatkan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Namun hingga kini bantuan tersebut belum pernah ia terima.
Jaenudin mengaku telah tinggal di rumah itu sekitar delapan tahun terakhir bersama putrinya. Meski kondisi bangunan sudah rusak, ia tetap memilih bertahan karena tidak ingin merepotkan keluarga.
“Walaupun rumahnya sudah rusak, mau bagaimana lagi. Daripada menumpang di rumah saudara, saya malu. Jadi terpaksa tinggal di sini,” ujarnya lirih.
Ia juga menceritakan bahwa rumah tersebut merupakan peninggalan orang tuanya. Dahulu, setelah istrinya meninggal, ia memutuskan pulang ke kampung halaman dan menempati rumah itu bersama orang tuanya.
“Dulu saya sempat tinggal di Sukabumi bersama istri. Setelah istri meninggal, saya pulang ke sini. Waktu itu orang tua masih ada, sekarang mereka sudah meninggal dan saya yang menempati rumah ini,” katanya.
Menurut Jaenudin, rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1980-an ketika dirinya masih bujangan. Sejak berdiri, rumah itu hanya beberapa kali diperbaiki secara sederhana.
Kini, harapan Jaenudin sebenarnya sangat sederhana. Ia ingin memiliki rumah yang lebih layak untuk ditinggali bersama anaknya, serta memastikan Zahra dapat terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
“Saya hanya ingin anak saya tetap sekolah sampai besar. Mudah-mudahan ada yang membantu memperbaiki rumah ini,” ucapnya penuh harap.
Sementara itu, Kepala Desa Pasir Panjang, Mamat Selamet, membenarkan bahwa Jaenudin merupakan warganya yang tinggal di Kampung Cigaru. Pihak pemerintah desa, kata dia, telah mengetahui kondisi tersebut dan berupaya mengoordinasikannya dengan pihak terkait.
“Benar itu warga kami. Dari pemerintah desa sudah lama kami koordinasikan dengan pihak terkait, termasuk dengan TKSK. Pengajuan bantuan seperti rutilahu juga sedang dalam proses agar bisa membantu beliau,” singkatnya.






