LINGKARPENA.ID | Jejak laut purba yang tersimpan di kawasan selatan Kabupaten Sukabumi akan dihidupkan kembali melalui sebuah pertunjukan berbasis seni, petualangan, dan edukasi. Yayasan Sri Manggala Nusantara melalui unit program Pakidoelan Eco Art and Cultural Laboratory (Pakidoelan Lab) bersiap menggelar pertunjukan bertajuk “Pulo Megalodon Jampang” di kawasan Goa Karang Gintung, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Sabtu (30/5/2026).
Kegiatan tersebut dirancang sebagai pertunjukan live action role play (LARP) yang memadukan unsur paleontologi, mitologi Sunda, hingga isu perubahan iklim dalam satu pengalaman ruang terbuka di kawasan situs temuan fosil Megalodon.
Di antara tebing karst dan jejak bebatuan purba Gunung Sungging, para peserta nantinya diajak memasuki alur petualangan yang menghubungkan masa lalu bumi dengan tantangan lingkungan masa kini. Pertunjukan itu sekaligus menjadi upaya memperkenalkan potensi kawasan Geopark Jampang sebagai ruang edukasi dan wisata berbasis budaya.
Project Manager sekaligus Artistic Director Pakidoelan Lab, Sophiyah, mengatakan pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan media pembelajaran alternatif yang dekat dengan masyarakat.
“Melalui ‘Pulo Megalodon Jampang’, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang hidup. Penonton tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga diajak memahami sejarah geologi, mitologi lokal, dan pentingnya menjaga lingkungan melalui pendekatan seni,” ujar Sophiyah, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, kawasan Sukabumi Selatan memiliki kekayaan geologi dan budaya yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai ekosistem eduwisata berbasis masyarakat.
“Kami percaya situs-situs seperti Gunung Sungging menyimpan narasi besar tentang peradaban alam. Ketika seni dipadukan dengan riset dan partisipasi warga, maka lahir ruang edukasi yang lebih membumi dan mudah diterima generasi muda,” tambahnya.
Pertunjukan akan digelar mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai di Goa Karang Gintung, Kampung Cigintung, Desa Gunungsungging, Kabupaten Sukabumi. Selain melibatkan komunitas seni dan budaya, kegiatan ini juga membuka ruang kolaborasi dengan media, pegiat lingkungan, hingga masyarakat setempat.
Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Sri Manggala Nusantara berharap kawasan pesisir dan geopark di Sukabumi Selatan tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya gerakan kebudayaan dan kesadaran ekologis yang berkelanjutan.






