Ada apa Bupati Tapsel Temui KH Muhammad Fajar Laksana di Pesantren Modern Al- Fath Sukabumi

Momen foto bersama Bupati Tapanuli Selatan dengan Pimpinan Ponpes Modern Al-Fath dan para santri | Foto: Aris Wanto

LINGKARPENA.ID | Bupati Tapanuli Selatan, melakukan kunjungan ke Pesantren Modern Al- Fath Gunungpuyuh Kota Sukabumi, Minggu, 10 Desember 2023. Kunjungan Bupati Tapsel ini tak lain untuk melihat tatakelola pesantren, dimana salah satunya bidang pertanian terintegrasi untuk dijadikan percontohan Pesantren-pesanren di Tapanuli Selatan.

Dolly Putra Parlindungan Pasaribu saat ditemui wartawan mengatakan, kunjungan ini bertujuan untuk silahturahmi ke Kyai Muhammad Fajar Laksana guna mengenal dan memahami tatakelola di pesantren tersebut.

Menurut Dolly, ia mendengar tatakelola di Pesantren Al-Alfah Kota Sukabumi ini lebih kepada tidak mengunkan duit. Akan tapi mengkaryakan anak-anak santri yang tujuannya untuk membangun pondok pesantren ini.

“Nah tentunya saya akan terapkan metode tatakelola Pesantren ini di Tapabuli Selatan. Jadi mengenai tatakelola manajemen yang berjalan di pesantren ini akan saya adopsi. Jadi itu tujuan saya kemari,” ujar Dolly kepada Lingkarpena.id.

“Saya akan terapkan nanti di ponpes-ponpes yang ada di Tapanuli Selatan. Tentunya dengan pola pertanian terintegrasi bisa melibatkan masyarakat untuk menambah kesejahteraan dan peningkatan ekonomi,” imbuhnya.

Baca juga:  Jelang Nataru, Forkopimda Kota Sukabumi Laksanakan Apel Gelar Pasukan Ops Lilin Lodaya 2023

Dijelaskan Bupati Tapsel, pemerintah disana sudah menerapkan metode itu secara parsial, namun hanya sepotong-sepotong. Dengan melihat langsung ke Ponpes Al-Fath Kota Sukabumi tentunya tidak ada siklus yang terbuang.

Menurutnya, regulasi dari pendidikan, pertanian, perternakan dan perikanan disini mengunakan metode kearifan lokal. Sehingga perputarannya berkesinambungan dan saling bergantung satu sama lainya menciptakan hulu dan hilirnya.

Ditanya soal kesamaan budaya Tapsel dan Suda Sukabumi Dolly menjawab, ada hal yang menarik seperti ada tiga entitas ada maha kuasa, pemerintah dan rakyat.

“Ya di kami juga ada sifatnya yang dituakan, muda dan sodara kurang lebih hampir sama,” tandasnya.

Sementara itu KH. Muhammad Fajar Laksana selaku Pimpinan Ponpes Moderen Al-Fath mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan silaturahminya Bupati Tapsel tersebut.

Baca juga:  Anjangsana Anies Baswedan ke Cucu Pahlawan Nasional di Sukabumi, Begini Respon Neni Faujiyah

“Ya tentunya kami bisa sharing untuk memunculkan ide juga gagasan baru. Alhamdulillah pak Dolly Pasaribu telah melihat Musium bekeliling pesantren melihat semua aktivitas apa saja yang ada dilingkungan Ponpes al-fath,” terangnya.

“Tentunya program-program di kami beliau sudah mengetahui diantaranya terkait program kemandirian santri entrepreneur, kuliah santri sambil bekerja outsourching go internasional,” sambung Kyai Fajar Laksana.

Bahkan, Bupati Tapsel tadi melihat lokasi Home industri seperti pembuatan sendal juga pengolahan pembuatan tahu. Dikatakan Kyai Fajar, para santri di Al- Fath Alhamdulilah terdapat dari 23 Provinsi yang ada di Indonesia, mungkin jumlahnya sudah mencapai 900 orang.

“Bagi seemua pendidikan santri itu gratis. Ya kami bukan tidak memerlukan biaya. Akan tetapi bagaimana menciptakan kemandirian dengan melalui unit usaha yang ada untuk di kelola sebagaimana mestinya. Dan hasilnya itu bisa untuk menanggung semua biaya kebutuhan mereka (santri),” ungkapnya.

Baca juga:  Menyoal Kasus Balita Tertimpa Timbangan Dacin, Dinkes Kota Sukabumi Angkat Bicara

Maka dari itu, metode pesantren al-fath Kota Sukabumi dari dulu hingga saat ini terus berjalan dengan cara menerapkan ekonomi sedekah atau sodakoh.

“Sodakoh buat anak yatim piatu, kaum duafa, sehingga mereka mensodakohkan tenaganya lalu penghasilannya dan itu disodakohkan untuk memilih hidup mereka. Jadi inilah yang disebut ekonomi sodakoh,” jelasnya.

Kyai Fajar Laksana menambahkan, tujuan pondok didirikan bukan untuk mencari uang, melainkan untuk ibadah. Akan tetapi dalam ibadah jangan ada itikad mencari uang, tetapi bagaimana caranya menciptakan prodak untuk saling memberi.

“Ya memang kebanyakan hidup ini mencari uang yang akhirnya menjadi konsumtif dan yang diuntungkan adalah para kafital atau pemodal,” terangnya.

“Jadi, kita hidup bagaimana menciptakan prodak dan karya dengan tujuan hidup yang baik. Seperti dalam Islam bagaimana kita hidup memberikan manfaat untuk orang lain. Nah jika prodaknya sudah ada pasti uang akan datang dengan sendirinya,” pungkasnya.

Pos terkait