Curhat Pilu PMI Asal Serang Banten di Arab Saudi, Dapat Ancaman Dipaksa Kerja

SERANG-BANTEN | Kisah pilu kembali disampaikan seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Serang Banten, Ismiyati (27) tahu. Ia bekerja di Arab Saudi. Perempuan tersebut mengaku mengalami berbagai persoalan sejak proses pemberangkatan hingga ditempatkan pada sejumlah majikan.

 

Dalam penuturannya, PMI tersebut mengungkapkan bahwa dirinya diberangkatkan oleh seorang sponsor yang ia kenal dengan nama Ibu Biyah atau biasa disebut “Madam” oleh para TKW. Saat berada di kantor pemberangkatan, ia juga bertemu dengan seseorang bernama Yusuf yang disebut sebagai pihak kantor.

 

Menurut pengakuannya, sebelum berangkat ia menjalani sejumlah tahapan administrasi dan pemeriksaan kesehatan. Dalam pemeriksaan medis, ia sempat dinyatakan memiliki tekanan darah tinggi, meski sebelumnya mengaku tidak mengetahui memiliki riwayat tersebut.

 

“Umur kamu masih 27, tapi darah sudah 130. Kamu punya riwayat darah tinggi,” ujar dokter saat pemeriksaan, sebagaimana ditirukan PMI tersebut.

 

Setelah dinyatakan fit, ia melanjutkan proses keberangkatan hingga akhirnya tiba di Riyadh dan ditempatkan di sebuah perusahaan penyalur atau syarikah. Ia mengaku hanya menjalani pendidikan selama beberapa hari sebelum memperoleh majikan.

Baca juga:  Aksi Nyata Pemulangan PMI Asal Sukabumi: Sekber Relawan TPPO RI Jemput Empat Patmawati di Bandara Soetta

 

Namun, persoalan mulai muncul ketika bekerja pada majikan pertama. Ia mengaku harus membersihkan dua rumah sekaligus. Kondisi pekerjaan tersebut, menurutnya, membuat mental dan tenaganya terkuras.

 

Ia juga mengaku telah berusaha menyampaikan kondisi tersebut kepada sponsor, namun respons yang diterimanya justru membuat dirinya merasa semakin tertekan.

 

Persoalan lainnya terjadi terkait dokumen dan fasilitas kerja. PMI tersebut mengaku belum memiliki kartu ATM dan iqamah miliknya tidak kunjung berada dalam penguasaannya. Ketika ia meminta bantuan kepada pihak syarikah, ia mengaku justru diarahkan untuk meminta majikannya mengurus hal tersebut.

 

“Saya coba menghubungi pihak terkait, tetapi tidak ada solusi. Saya hanya dibilang sabar, nanti saya akan dihubungkan dengan syarikah,” tuturnya.

 

Sakit Tetap Diminta Bekerja

Baca juga:  Kisah Pilu Ibu Meti, Tetangga Walikota Sukabumi yang Tinggal di WC Umum Selama Enam Tahun

 

Kondisi semakin berat ketika ia mengalami gangguan kesehatan saat bekerja. Ia mengaku mengalami jantung berdebar hebat dan pusing.

 

Saat menyampaikan keluhannya kepada ibu majikan, ia mengaku diberikan dua tablet obat yang disebutnya Panadol. Setelah mengonsumsi obat tersebut, kondisinya justru terasa semakin tidak nyaman.

 

“Bukannya membaik, badan saya malah terasa menggetar. Saat itu saya masih dalam keadaan sakit, tetapi tetap harus bekerja,” ungkapnya.

 

Ia mengaku telah melaporkan kondisi tersebut kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab, termasuk Yusuf dan sponsor. Namun, menurut pengakuannya, keluhan tersebut tidak mendapatkan penanganan sebagaimana yang diharapkannya.

 

Bahkan, ia mengaku pernah mendapat respons, “Semua pekerjaan capek,” ketika dirinya sebenarnya sedang menyampaikan kondisi kesehatan, bukan mengeluhkan pekerjaan.

 

Dalam kondisi sakit, ia juga mengaku pernah melakukan kesalahan ketika diminta mengambil sesuatu karena tidak terlalu memahami bahasa yang digunakan majikan. Kesalahan tersebut membuatnya mendapat teguran keras dan bahkan disebut “gila”.

Baca juga:  PMI Asal Sukaraja Sakit di Riyadh, Keluarga Soroti Tanggungjawab Sponsor dan Minta BP3MI Bergerak

 

Dua Kali Berganti Majikan

 

Beberapa hari kemudian, ia akhirnya kembali ke kantor. Namun, hanya berselang dua hari, dirinya kembali diambil oleh majikan lain.

 

Kali ini, ia mengaku diminta merawat seorang nenek, meski menurutnya pekerjaan yang dijanjikan sebelumnya adalah pekerjaan rumah tangga. Ia juga mengaku tidak mendapatkan makanan selama berada di rumah tersebut.

 

Karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan, ia hanya mampu bertahan sekitar sehari semalam sebelum kembali ke kantor.

 

Di kantor, persoalan kembali terjadi. Ia mengaku mendapat omelan dari salah satu pengurus atau musrifah. Bahkan, ia mengaku sempat dicubit.

 

Ia juga merasa keberatan ketika dituding sudah tiga kali berganti majikan dalam waktu dua bulan.

 

“Saya dijadikan masalah karena katanya baru dua bulan sudah tiga kali ganti majikan. Padahal kenyataannya saya baru,” ringkasnya.

Pos terkait