LINGKARPENA.ID | Riuh perbincangan di media sosial beberapa hari terakhir bermula dari sebuah video yang direkam di tengah suasana hajatan adat di Kasepuhan Gelar Alam, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Dalam momen yang semestinya penuh khidmat—khitanan putra pimpinan adat, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi—muncul cuplikan yang kemudian memantik beragam tafsir publik.
Sosok yang menjadi sorotan, adalah Mang Bono, dan akhirnya buka suara. Melalui pernyataan yang ia sampaikan di akun Tiktok miliknya, pada 15 April 2026, ia mencoba meluruskan duduk perkara sekaligus meredakan kegaduhan yang terlanjur meluas.
Dengan nada rendah hati, ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya kepada para tokoh adat yang mungkin merasa tidak nyaman dengan konten tersebut.
“Nyuhunkeun pisan dihapunten, atas video anu nyebar viral. Sanes maksud bade kumaha-kumaha,” tutur Mang Bono.
Menurutnya, kejadian itu berlangsung spontan. Tidak ada skenario, apalagi niat untuk menyinggung norma atau nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat adat setempat. Ia hanya ingin mencairkan suasana dalam acara keluarga yang sedang berlangsung.
“Tadina mah hoyong ngaramekeun suasana supaya janten hiburan. Teu nyangka bakal jadi viral sapertos kieu,” ungkapnya.
Namun realitas di era digital sering kali berjalan di luar kendali. Apa yang awalnya dianggap hiburan sesaat, berubah menjadi konsumsi publik yang luas, lengkap dengan beragam opini yang tidak selalu sejalan dengan maksud awal.
Mang Bono pun secara khusus menyampaikan permintaan maaf kepada para sesepuh kasepuhan, termasuk Abah Anom. Ia menegaskan bahwa dirinya menjunjung tinggi nilai adat dan tidak memiliki niat sedikit pun untuk merendahkannya.
Di sisi lain, ia juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi dan menyebarkan konten. Ia berharap video yang telah beredar dapat dihentikan penyebarannya agar tidak memperpanjang polemik.
“Mugia anu parantos nyebarkeun tiasa ngahapus deui, supados kaayaan tiasa langkung tenang,” pintanya.
Ia juga menyinggung adanya narasi-narasi yang berkembang di luar konteks, yang menurutnya justru memperkeruh suasana. Baginya, kesalahpahaman ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana sebuah momen sederhana bisa berubah makna ketika tersebar tanpa batas.
Kini, di tengah upaya klarifikasi tersebut, harapan pun mengemuka—agar suasana kembali kondusif, dan masyarakat dapat melihat peristiwa ini secara lebih utuh, tidak semata dari potongan video yang viral, tetapi juga dari niat dan konteks yang melatarbelakanginya.LINGKARPENA.ID | Riuh perbincangan di media sosial beberapa hari terakhir bermula dari sebuah video yang direkam di tengah suasana hajatan adat di Kasepuhan Gelar Alam, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Dalam momen yang semestinya penuh khidmat—khitanan putra pimpinan adat, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi—muncul cuplikan yang kemudian memantik beragam tafsir publik.
Sosok yang menjadi sorotan, Mang Bono, akhirnya buka suara. Melalui pernyataan yang ia sampaikan di akun Tiktok miliknya, pada 15 April 2026, ia mencoba meluruskan duduk perkara sekaligus meredakan kegaduhan yang terlanjur meluas.
Dengan nada rendah hati, ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya kepada para tokoh adat yang mungkin merasa tidak nyaman dengan konten tersebut.
“Nyuhunkeun pisan dihapunten, atas video anu nyebar viral. Sanes maksud bade kumaha-kumaha,” tutur Mang Bono.
Menurutnya, kejadian itu berlangsung spontan. Tidak ada skenario, apalagi niat untuk menyinggung norma atau nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat adat setempat. Ia hanya ingin mencairkan suasana dalam acara keluarga yang sedang berlangsung.
“Tadina mah hoyong ngaramekeun suasana supaya janten hiburan. Teu nyangka bakal jadi viral sapertos kieu,” ungkapnya.
Namun realitas di era digital sering kali berjalan di luar kendali. Apa yang awalnya dianggap hiburan sesaat, berubah menjadi konsumsi publik yang luas, lengkap dengan beragam opini yang tidak selalu sejalan dengan maksud awal.
Mang Bono pun secara khusus menyampaikan permintaan maaf kepada para sesepuh kasepuhan, termasuk Abah Anom. Ia menegaskan bahwa dirinya menjunjung tinggi nilai adat dan tidak memiliki niat sedikit pun untuk merendahkannya.
Di sisi lain, ia juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi dan menyebarkan konten. Ia berharap video yang telah beredar dapat dihentikan penyebarannya agar tidak memperpanjang polemik.
“Mugia anu parantos nyebarkeun tiasa ngahapus deui, supados kaayaan tiasa langkung tenang,” pintanya.
Ia juga menyinggung adanya narasi-narasi yang berkembang di luar konteks, yang menurutnya justru memperkeruh suasana. Baginya, kesalahpahaman ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana sebuah momen sederhana bisa berubah makna ketika tersebar tanpa batas.
Kini, di tengah upaya klarifikasi tersebut, harapan pun mengemuka—agar suasana kembali kondusif, dan masyarakat dapat melihat peristiwa ini secara lebih utuh, tidak semata dari potongan video yang viral, tetapi juga dari niat dan konteks yang melatarbelakanginya.






