Hujan Tiga Jam Picu Longsor dan Pergerakan Tanah di Jampangtengah, Puluhan Warga Terancam

FOTO: Kondisi di wilayah Jampangtengah pasca diguyur hujan selama 3 jam pada Kamis sore (16/4).[dok.p2bk]

LINGKARPENA.ID | Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, selama kurang lebih tiga jam pada Rabu sore (15/4/2026), menyisakan jejak kecemasan di Desa Nangerang. Tanah yang jenuh air perlahan bergerak, lereng-lereng tak lagi kokoh, dan longsor pun terjadi di sejumlah titik, mengancam rumah warga hingga lahan pertanian.

 

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16.30 WIB itu memicu serangkaian bencana berupa longsor dan pergerakan tanah di beberapa kampung, seperti Cilimus, Cisaat, hingga Cijiwa. Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun pengungsian, dampaknya cukup luas—mulai dari rumah rusak, fasilitas umum terancam, hingga terganggunya sistem irigasi pertanian.

 

Di Kampung Cilimus, satu rumah milik warga dilaporkan mengalami kerusakan ringan akibat longsor dengan dimensi sekitar 10 meter. Tak jauh dari lokasi, retakan tanah sepanjang 20 meter dengan kedalaman mencapai 50 sentimeter mengancam empat rumah yang dihuni belasan jiwa.

Baca juga:  Inilah Kondisi TPT Longsor di Kecamatan Cisolok

 

Kondisi lebih mengkhawatirkan terlihat di Kampung Cijiwa. Longsor besar dengan panjang mencapai 50 meter dan tinggi tebing sekitar 120 meter menyebabkan saluran irigasi Cibening terputus. Akibatnya, sekitar 5 hektare sawah mengalami kekeringan, sementara 2.000 meter persegi lahan rusak terseret material longsoran.

 

Di titik lain, sebuah masjid dan beberapa rumah warga juga berada dalam ancaman pergerakan tanah yang masih aktif. Sementara itu, di Kampung Cigedang, lima rumah dan satu masjid dilaporkan berada di zona rawan akibat longsor sepanjang 80 meter.

Baca juga:  Sejumlah Ruko di Bunderan Sukaraja Sukabumi Terancam Longsor

 

Di tengah situasi tersebut, warga bersama aparat setempat bahu-membahu melakukan penanganan darurat. Material longsoran mulai dibersihkan secara swadaya, sementara petugas pengairan melakukan perbaikan sementara pada saluran irigasi yang terdampak.

 

Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Jampangtengah, Dadi Supardi, mengatakan pihaknya langsung bergerak cepat melakukan asesmen dan koordinasi lintas sektor begitu menerima laporan kejadian.

 

“Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu cukup lama menjadi pemicu utama terjadinya pergerakan tanah dan longsor di sejumlah titik di Desa Nangerang. Saat ini kami terus melakukan pemantauan serta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang rawan,” ujar Dadi.

 

Ia menambahkan, meskipun tidak ada korban jiwa, potensi ancaman masih cukup tinggi, mengingat kondisi tanah yang masih labil.

Baca juga:  Hujan Deras jadi Musibah Dibeberapa Kecamatan di Sukabumi

 

“Beberapa rumah, fasilitas ibadah, hingga lahan pertanian masih berada dalam kondisi terancam. Kami berharap ada dukungan bantuan darurat seperti bronjong, karung, hingga material penanganan irigasi untuk mencegah dampak yang lebih besar,” tambahnya.

 

Sejumlah unsur terlibat dalam penanganan di lapangan, mulai dari perangkat desa, TNI-Polri, Tagana, hingga masyarakat setempat. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam upaya penanganan awal sekaligus mitigasi risiko lanjutan.

 

Langit Jampangtengah yang kini berawan seolah menjadi pengingat bahwa potensi bencana belum sepenuhnya reda. Di balik kerja keras warga yang membersihkan lumpur dan memperbaiki saluran air, tersimpan harapan agar tanah kembali stabil dan kehidupan bisa berjalan seperti sediakala.

Pos terkait