Ratusan Sopir Angkot Geruduk Pabrik Semen PT SCG, Ada Apa?

Kendaraan Angkutan Kota (Angkot) Saat Menggelar Aksi di Halaman Pabrik Semen PT SCG di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Senin (12/12/2022). Foto: Istimewa.

LINGKARPENA.ID I Ratusan sopir angkot Kota (Angkot) trayek jurusan Lembursitu-Cikembang, menggelar aksi unjuk rasa di halaman depan pabrik PT SCG, Jalan Raya Pelabuhan II, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Senin (12/12/2022).

Dari pantauan Lingkarpena.id aksi tersebut, merupakan salah satu bentuk protes pengguna lalu lintas, khususnya angkot jalur terkait. Rusaknya infrastruktur yang kerap dilintasi kendaraan berat bermuatan over kapasitas menjadikan jalan mudah hancur.

Koodinator Aksi, Nendar Supriyatna mengatakan, ratusan sopir angkot trayek 19 ini, sengaja mendatangi PT SCG. Karena, ia bersama para driver angkot menilai kerusakan di sepanjang ruas Jalan Raya Pelabuhan II yang masuk pada wilayah Kecamatan Gunungguruh dan Kecamatan Cikembar ini, diduga disebabkan oleh kendaraan truk bermuatan over load yang masuk ke PT SCG.

“Untuk itu, kami dengan100 lebih unit angkot dan 200 soprinya, hari ini datang ke PT SCG untuk meminta kejelasan terkait perbaikan jalan jalur Pelabuan II. Aksi ini hasil diskusi dengan kawan-kawan driver angkot. Dan PT SCG ini, merupakan salah satu perusahaan penyumbang kendaraan terbanyak yang kerap melintasi jalan Pelabuhan II,” kata Nendar kepada Lingkarpena.id.

Meskipun demikian sambung dia, pihaknya bersama ratusan sopir angkot melakukan aksi unjuk rasa ke PT SCG untuk meminta pertanggung jawabannya, selain kepada pemerintah Provinsi Jawa Barat. Karena, menurutnya jalan Pelabuhan II itu, bukan milik korporasi atau perusuahaan. Jadi masyarakat secara umum memiliki hak yang sama untuk menggunakan jalur tersebut.

Baca juga:  Cek Fakta: Pria Nyaris Dihajar Massa di Surade Sukabumi

“PT Semen Jawa Group ini adalah penyumbang kendaraan berat terbanyak di jalur ini. Lalu lintas kendaraan terbesar diantaranya dari perusahaan ini. Jadi dari sisi beban tonase dan sebagainya, PT SCG ini yang menyumbang rute di jalur ini. Karena, matetial yang masuk ke PT SCG ini, selain batubara, angkutan semen, bati lemstone, pasir dan sebagainya. Nah, ini secara tonasinya perlu dikaji juga. Apakah boleh dan memenuhi standar jalan provinsi apa tidak,” bebernya.

Tak hanya itu lanjut Nendar, kerusakan jalan raya Pelabuhan II ini, selain tidak adanya perbaikan dari pemerintah juga, dipicu karena banyaknya aktivitas kendaraan berat yang muatanya over load. Kekesalan warga dan pengguna lalu lintas, semakin geram terkait kerusakan di jalan tersebut.

Bahkan, setelah salah satu penumpang kendaraan roda dua yang dikabarkan meninggal dunia saat melintasi jalan berlubang karena terjatuh di jalan rusak tersebut. Kejadian itu tepatnya di depan Toko Kanada, Kampung Kertaraharja, RT 02/RW 02, Desa Kertaraharja, Kecamatan Cikembar pada Rabu (30/11) sekira pukul 18.30 WIB lalu.

Baca juga:  Libur Nataru, Objek Wisata di Cisolok Sepi Pengunjung

“Iya, ada penumpang sepeda motor yang meninggal dunia setelah terjatuh melintasi jalan berlubang itu, badan atau kepalanya terlindas truk yang disinyalir milik PT SCG,” ungkapnya.

Lebih lanjut Nendar menjelaskan, kerusakan jalan Pelabuhan II itu, totalnya ada sepanjang sekitar 5 kilometer. Hanya, saja kondisi rusaknya putus-putus oleh badan jalan yang sudah dibeton. Seperti kerusakan sepanjang 1 km dari PT SCG sampai Binjai Desa Kertarajar, 1 kiometer jalan rusak dari SPBU Cibodas sampai Jembatan II Desa Bojongraharja Kecamatan Cikembar dan masih banyak lagi yang lainnya.

Selain menyebabkan kecelakaan lalu lintas, kerusakan jalan tersebut juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. Bukan hanya itu, driver angkot juga kerap mempersoalkan banyaknya kerusakan pada body kendaraanya karena kerap melintasi jalan berlubang.

“Sangatlah wajar jika kami meminta supaya jalan ini diperhatikan, jangan hanya perbaikan itu cukup satu bulan. Secara umum contohnya pengguna jalan, akibat dampat dari jalan buruk ini, BBM konsumsinya jadi lebih berat karena memakai gigi rendah. Selain itu, perbaikan kendaraan juga sering servis. Otomatis ini jadi beban hidup kami, ditambah ekonomi sedang sulit dan semakin berat,” ucapnya.

Oleh karena itu, ia bersama para sopir angkot meminta kepada semua perusahaan, khususnya PT SCG yang merupakan perusahaan terbanyak menyumbang kendaraan berat di jalur tersebut, agar tidak sebatas memikirkan usaha atau bisnis belaka. Tetapi, mereka juga harus peduli dan memikirkan akses lalu lintas yang digunakannya sebgai lalu lintas untuk publik.

Baca juga:  Polisi Ciduk Pelaku Percobaan Pemerkosaan di Sukabumi

“Jalan ini, sudah lama rusak, karena diperbaiki juga sedikit-sedikit. Meskipun kita akui mereka juga ikut bertanggungjawab melakukan pengecoran. Tetapi itu tidak tuntas semua,” cetusnya.

Dikonfirmasi secara terpisah UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan II Sukabumi pada Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, Ari Haidriyansyah menambahkan, pada tahun anggaran 2022 perbaikan jalan dilakukan penanganan dengan pemeliharaan secara rutin.

“Insya Allah, rencananya jalan Pelabuhan II yang kini diprotes warga dan pengguna lalu lintas dari sopir angkot itu, akan kita mulai perbaiki pada 2023 yang akan datang,” katanya.

Ari menyebutkan, pada tahun anggaran 2023 nanti secara bertahap penanganan akan dilakukan dengan pemeliharaan berkala sepanjang kurang lebih 3,7 kilometer.

“Penangan perbaikan itu, akan dilakukan pada 2023. Mulai dari Jembatan Cipeundeuy Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh sampai pasar Panggeleseran, Desa Kertaraharja, Kecamatan Cikembar. Intinya, pemeliharaan rutin itu akan terus dilakukan,” pungkasnya.

Pos terkait