LINGKARPENA.ID | Sungguh miris nasib lelaki tua bernama H Basori. Di usia senjanya ia harus mengalami hidup bernasib kurang menguntungkan. Sepeninggalan isteri tercintanya setahun yang lalu ia kini hidup bersama anak perempuannya bernama Mulyati yang mengalami gangguan kejiwaan.
Selepas isterinya berpulang ke alam baka, ada beban berat yang dipikul lelaki berusia 80 tahun ini. Selain harus mengurusi hidupnya sehari hari, kondisi yang di alami anak perempuannya, Nuryati, sedikit terabaikan.
Mulyati (38) yang mengalami gangguan kejiwaan setelah biduk rumah tangga yang dibinanya hancur lantara sang suami berpindah ke lain hati. Perceraian inilah yang menjadi pemantik gangguan kejiwaan Nuryati.
Sebagai seorang ayah, telah berbagai upaya dilakukan Basori untuk kesembuhan anak perempuannya itu. Namun usahanya tak membuahkan hasil. Mulyati yang kala itu masih tinggal di Cianjur ahirnya diboyong Basori ke kampung halamannya, Kampung Mekarsari Asih, RT 02/05 Desa Cibenda, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.
Kekinian, karena kondisi Mulyati tak kunjung membaik, dan terkadang sering berulah yang membahayakan dirinya dan orang lain, ahirnya dengan sangat terpaksa Basori mengisolasi anaknya itu di sebuah ruangan berukuran 2,5 x 3 meter. Beralaskan lembaran papan dan
dinding ruangan terbuat dari bambu (bilik), Mulyati menghabiskan hari harinya di ruangan itu.
Camat Ciemas, Usep Supelita, saat dihubungi lingkar pena.id mengaku belum mendengar masalah tersebut. Dan ia akan segera terjun kelapangan bersama pihak terkait.
“Saya baru kali ini mendengan masalah itu dan akan secepatnya mengeceknya,” kata Usep.
Kepala Desa Cibenda, Adi Rizwan, membenarkan bahwa Mulyati tinggal di wilayahnya, dan saat ini mengalami gangguan kejiwaan. Keberadaan Mulyati, kata Adi, hingga sekarang masih tercatat sebagai warga Cianjur.
“Memang Mulyati sekarang tinggal di wilayah kami, namun status kependudukannya masih tercatat sebagai warga Cianjur, karena belum mengurus status kepindahannya. Ia berada di wilayah kami karena sakit, lalu dibawa pulang orang tuanya ke Desa Cibenda,” jelas Adi
Sepengetahuan Adi, Mulyati sering dibawa berobat oleh keluarganya. “Mungkin sudah lelah untuk mencari kesembuhannya ahirnya orangtuanya berhenti untuk mengobatinya,” pungkas Adi.
Keberadaan Mulyati pun mendapat perhatian dari Kepala Puskesmas Ciemas, Lilis. Pihaknya mengaku akan menanganinya lebih lanjut.
“Keberadaan Mulyati bukan tidak terdata hanya saja ia kan pindahan dari Cianjur jadi pendataannya terlambat. Namun demikian hal ini akan jadi perhatian kami,” ucap Lilis.
Lebih lanjut katanya, keberadaan Mulyati sempat dikunjungi petugas, dan disarankan untuk dibawa berobat di Puskesmas. Namun hingga sekarang belum juga datang berobat.
“Ini akan menjadi atensi kami,” pungkas Lilis.






