LINGKARPENA.ID | Kecelakaan tunggal yang diduga dipicu kondisi jalan licin dan berlumpur di ruas Jalan Karangtengah–Cirendeu menyisakan dampak serius bagi dua pengendara sepeda motor. Salah seorang korban bahkan harus menjalani operasi akibat mengalami patah tulang.
Peristiwa itu terjadi pada Senin (15/6/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Berdasarkan keterangan keluarga korban, jalan yang dipenuhi lumpur diduga berasal dari aktivitas kendaraan berat pengangkut tanah untuk kebutuhan pembangunan Tol Bocimi Seksi III.
Dalam insiden tersebut, Boyke Pradana, seorang pekerja klinik, mengalami patah tulang pada bagian bahu hingga harus menjalani operasi di RSUD Sekarwangi. Sementara rekannya, dr. Neneng Fitria yang bertugas di Puskesmas Girijaya, mengalami benturan di kepala serta luka memar di beberapa bagian tubuh. Setelah sempat mendapatkan penanganan awal, dr. Neneng dirujuk ke RS Secapa Polri Kota Sukabumi karena mengeluhkan pusing dan mual.
Seluruh biaya operasi Boyke ditanggung melalui program BPJS Kesehatan yang iurannya dibayarkan oleh tempat korban bekerja. Meski demikian, keluarga menilai masih ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi selama masa pemulihan.
Ibu korban, Erna Wati, mengatakan putranya diwajibkan menjalani kontrol rutin pascaoperasi selama enam bulan ke depan.
“Setelah operasi, Boyke harus menjalani pemeriksaan rutin setiap hari Senin di RSUD Sekarwangi selama enam bulan. Untuk biaya tindakan medis memang sudah ditanggung BPJS, tetapi masih ada kebutuhan lain selama proses pemulihan,” ujar Erna kepada wartawan, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, pihak keluarga berharap perusahaan yang mengerjakan proyek pembangunan Tol Bocimi dapat menunjukkan tanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan akibat kondisi jalan tersebut.
“Kami berharap PT Waskita dapat membantu proses pemulihan anak kami, termasuk kebutuhan selama menjalani pemeriksaan rutin. Perwakilan perusahaan sudah datang ke rumah dan kami telah menyampaikan harapan keluarga. Mereka menyatakan siap membantu, namun masih menunggu persetujuan dari pimpinan,” tuturnya.
Erna mengungkapkan, perwakilan manajemen perusahaan sebelumnya telah memberikan bantuan awal sebesar Rp1 juta ketika korban masih menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Sekarwangi.
“Bantuan itu kami gunakan untuk kebutuhan operasional selama di rumah sakit. Namun ke depan masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, karena korban belum tentu bisa kembali bekerja dalam waktu dekat. Ia juga memiliki istri yang menjadi tanggungannya,” katanya.
Hingga kini, keluarga masih menunggu realisasi bantuan lanjutan dari pihak perusahaan sembari berharap proses penyembuhan korban berjalan lancar dan dapat kembali beraktivitas seperti sediakala.






