LINGKARPENA.ID | Aliran Sungai Cimandiri di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, tak lagi sekadar menjadi tempat mencari ikan atau melepas penat. Dalam beberapa pekan terakhir, sungai itu menghadirkan cerita lain—tentang sosok predator yang muncul diam-diam, lalu menghilang di balik riak air keruh.
Warga setempat mulai akrab dengan kabar yang beredar dari mulut ke mulut hingga grup WhatsApp: seekor, bahkan lebih, buaya kerap menampakkan diri di aliran sungai tersebut. Tidak hanya malam hari, tetapi juga saat matahari masih tinggi.
Di tepian sungai, aktivitas tetap berjalan. Pancing dilempar, jaring ditebar. Namun, ada kewaspadaan yang kini ikut mengalir bersama arus air.
Dede Rukandi, seorang warga yang rutin memancing di lokasi itu, menjadi salah satu saksi kemunculan reptil tersebut. Baginya, pertemuan dengan buaya bukan lagi hal yang mengejutkan.
“Sering kelihatan, bahkan siang hari juga suka muncul. Saya lagi mancing juga beberapa kali lihat,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Dede tidak hanya melihat satu ekor. Ia mengaku pernah menyaksikan beberapa buaya dengan ukuran dan warna yang berbeda—sebuah pertanda bahwa sungai itu mungkin telah menjadi habitat yang nyaman.
“Ada yang besar warnanya hitam, ada juga yang sedang. Dua lagi warnanya agak kekuningan. Bahkan pernah lihat anaknya. Awalnya saya kira biawak, ternyata buaya,” katanya.
Di balik kemunculan itu, tersimpan dugaan sederhana namun masuk akal: ketersediaan makanan. Di sekitar bantaran sungai, berdiri kandang ternak ayam milik warga. Limbah kotoran hingga bangkai ayam diduga menjadi daya tarik tersendiri bagi predator air tersebut.
“Mungkin karena di sini banyak makanan. Ada kotoran ayam atau bangkai dari kandang,” ucap Dede.
Tak jauh dari lokasi, terdapat bangunan pabrik es. Di bagian bawahnya, terdapat lubang-lubang dan leuwi—cekungan sungai yang dalam dan tenang. Tempat seperti itu, bagi buaya, adalah ruang ideal untuk bersembunyi dan menunggu mangsa.
Meski ancaman itu nyata, kehidupan warga tidak serta-merta berhenti. Dede, seperti hari-hari sebelumnya, masih setia melempar kail demi ikan belanak yang menjadi sumber penghidupan tambahan.
Rasa takut, ia akui, tetap ada. Namun selama tidak ada gangguan langsung, ia memilih bertahan dengan rutinitasnya.
“Takut kalau dekat, pasti. Tapi selama dia tidak ganggu, saya juga tetap mancing,” pungkasnya.
Di Sungai Cimandiri, manusia dan predator kini berbagi ruang. Dalam diam, keduanya saling mengamati—menjaga jarak, sambil terus melanjutkan hidup masing-masing.






