Kemarahan Warga Lengkong Memuncak, Blokade Jalan Adang Truk ODOL

Truk yang diduga bermuatan over kapasitas di adang warga Lengkong Sukabumi, pada Minggu malam (26/4).[foto:dok.ist].

LINGKARPENA.ID | Suasana malam di ruas jalan Cikembar–Kiara Dua, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah tegang pada Minggu (26/4/2026) malam. Sejumlah warga secara spontan turun ke jalan dan memberhentikan kendaraan yang diduga bermuatan over dimension over loading (ODOL). Aksi tersebut terekam dalam video berdurasi sekitar 1 menit 20 detik dan dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial.

 

Di tengah sorot lampu kendaraan yang melintas, warga terlihat menghadang truk-truk besar yang masih nekat beroperasi dengan muatan berlebih. Kekesalan mereka bukan tanpa alasan.

 

Aksi ini dipicu kekecewaan masyarakat terhadap para pengusaha angkutan yang dianggap tidak mengindahkan surat edaran Gubernur Jawa Barat serta imbauan dari Dinas Perhubungan terkait larangan kendaraan ODOL. Padahal, kebijakan tersebut sebelumnya telah disosialisasikan kepada perusahaan-perusahaan angkutan.

Baca juga:  Ruas Jalan Caringin-Cidahu Dikeluhkan Warga, UPTD PU Wilayah III Angkat Bicara

 

Warga juga menilai keberadaan kendaraan ODOL menjadi salah satu faktor yang menghambat program rekonstruksi jalan di jalur tersebut. Akibatnya, perbaikan infrastruktur yang diharapkan segera terealisasi justru tertunda, sementara masyarakat terus menanggung dampaknya.

 

Ketua JTM Kecamatan Lengkong, Parman, yang suaranya terdengar dalam video tersebut, mengungkapkan bahwa masyarakat sudah lebih dulu menempuh jalur komunikasi dengan pihak terkait. Namun, kondisi di lapangan dinilai belum berubah.

Baca juga:  Mulut Berbusa: Wanita Bertato Meninggal dan Gegerkan Warga Kebonpendes Sukabumi

 

“Kami sudah melakukan audiensi dengan Dinas Perhubungan, tapi sampai hari ini kendaraan ODOL masih saja melintas. Masyarakat akhirnya turun langsung mencegah, karena ini menjadi penyebab tersendatnya program rekonstruksi jalan,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, tindakan warga dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi jalan yang kian rusak dan berdampak pada aktivitas sehari-hari, termasuk akses ekonomi dan layanan publik.

 

“Kami tidak ingin situasi ini menjadi tidak kondusif. Jangan sampai masyarakat harus berhadapan langsung dengan pengusaha atau sopir di lapangan. Kami berharap ada langkah cepat dan tegas, jangan sampai terkesan dibiarkan,” kata Parman.

Baca juga:  Budi Azhar Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Dukung Pelestarian Warisan Budaya Adu Ketangkasan Domba Garut  

 

Peristiwa ini menjadi cerminan meningkatnya keresahan warga terhadap persoalan infrastruktur yang tak kunjung tuntas. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan jalan yang layak untuk menunjang aktivitas, sementara di sisi lain, pelanggaran aturan oleh kendaraan ODOL masih terus terjadi.

 

Kini, warga berharap pemerintah dan instansi terkait dapat segera mengambil tindakan konkret agar kondisi tidak semakin memburuk dan konflik di lapangan dapat dihindari.

Pos terkait