Kisah Mistis dan Heroik Dibalik Objek Wisata di Pajampangan

Keindahan Pantai Ujunggenteng Kabupaten Sukabumi.| Istimewa

LINGKARPENA.ID | Destinasi wisata yang terhampar di Selatan Sukabumi saat ini semakin dilirik dan diminati banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Bukti otentiknya bisa dilihat dari jumlah pengunjung yang semakin meningkat.

Alam Sukabumi Selatan memang cukup menjanjikan untuk dijadikan obat pelepas lelah dari kepenatan rutinitas. Ada banyak objek wisata yang tersebar di tanah Pajampangan, sebut saja Pantai Ujunggenteng, Minajaya, Cicaladi, Palangpang, Pantai Amanda Ratu, Curug Cigangsa, Curug Cikaso, Curug Cimarinjung dan banyak lagi yang lainnya.

Sederet nama objek wisata diatas, dibalik kepopulerananya hampir semua memiliki kisah lain yang menarik untuk disimak. Tidak banyak yang tahu, apalagi generasi sekarang, yang jelas cerita itu beredar di masyarakat Pajampangan.

Pantai Ujunggenteng

Dulu, ketika kaum kolonial Belanda hadir di negeri kita, keberadaan Pantai Ujunggenteng memegang peran penting bagi pasukan tentara Belanda, dimana Ujunggenteng saat itu dijadikan basis pertahanan dan pelabuhan transit armada tentara Belanda.

Adanya sisa-sisa peninggalan sejarah yang terdapat di kawasan Ujunggenteng, semisal Bagal Batere, hutan lindung tempat menara mercusuar, dan bekas bangunan gedung Papak, semua itu menjadi saksi bisu sejarah.

Adalah Abraham Van Rieberck berkebangsaan Eropa ( 1708 ), orang yang yang pertama memberi nama Ujunggenteng dengan sebutan Gentengbaai.

Baca juga:  Napak Tilas Kabuyutan Kampoeng Awi Sukabumi 

Cerita lain yang dulu pernah ada di Ujunggenteng adalah tentang transitnya armada tentara Belanda yang membawa ratusan kuli kontrak perkebunan asal Jawa Tengah, yang semula hendak dibawa ke Suriname dan Kalimantan akhirnya diturunkan di kawasan Ujunggenteng. Itulah kisah awal mula kedatangan suku Jawa di Sukabumi Selatan.

Pantai Minajaya

Jika anda dalam perjalanan menuju Ujunggenteng, anda akan melalui sebuah kampung namanya Cibungur, tepatnya sekira 12 kilometer sebelum Ujunggenteng. Dari pertigaan Cibungur ke arah Selatan inilah akses menuju Pantai Minajaya.

Pantai inipun terkenal mampu menyuguhkan keindahan alam ketika mentari mulai tenggelam. Karenanya banyak kalangan milenial yang sengaja berkunjung hanya sekedar untuk melihat si raja siang keperaduannya.

Ada cerita menarik di pantai ini, yakni tentang awal mula pemberian nama Pantai Minajaya . Padahal sebelumnya bernama Pantai Kutamara.

Ceritanya begini, sekitar tahun 1974, di pagi buta penduduk disekitar Pantai Kutamara dikejutkan dengan suara peluit (ship whistle) yang semakin lama semakin keras terdengar. Setelah diketahui sumber suara itu, ternyata dari sebuah kapal laut yang terdampar di pesisir Kutamara.

Pada bagian lambung kapal tersebut ada tulisan Minajaya. Sejak itulah lama kelamaan Pantai Kutamara berganti nama Pantai Minajaya.

Baca juga:  Seekor Sapi Ditemukan Tanpa Organ Kaki, Diduga jadi Korban Pencurian

Curug Cigangsa

Curug Cigangsa tak kalah menarik untuk dikuak dari Curug Cigangsa adalah kisah tentang awal mula berdirinya Surade.

Setelah lengser dari jabatannya sebagai Dalem di Ladeuh ( Talaga, Majalengka ), Aria Dalem Santri atau Eyang Santri Dalem diberi gelar Sunan Nalagangsa oleh Kasultanan Cirebon.

Dahulu Eyang Santri ini beserta beberapa pengikutnya mengungsi dan sampailah di Curug Batu Suhunan, kemudian membuka lahan, dan hingga sekarang kampung tersebut dinamai Kp. Batu Suhunan.

Curug Batu Suhunan, atau Curug Cigangsa, dahulunya biasa digunakan Eyang Santri sebagai tempat pemandian, bahkan konon katanya beliaupun sering melakukan shalat disekitar tempat tersebut. Kisah itu diperkirakan terjadi di tahun 1817, atau berbarengan dengan pembuatan jalan Anyer – Panarukan.

Tentunya masih banyak cerita lain yang perlu untuk diketahui, namun yang jelas, diantara tebaran objek wisata yang ada di Pajampangan , barangkali objek wisata diatas tadi cukup mewakilinya.

Air Terjun Cikaso

Air Terjun Cikaso dikenal sebagai Curug Luhur, tetapi nama Curug Cikaso lebih dikenal masyarakat sekitar dikarenakan aliran airnya berasal dari anak sungai Cikaso. Air Terjun ini lokasi berada di Desa Ciniti, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi.

Baca juga:  Si Peci Merah Ti Jampang Galang Donasi untuk Ato

Curug yang memiliki ketinggian 80 meter dan lebar tebingnya 100 meter ini,memiliki tiga air terjun yaitu Curug Aki dibagian kanan, Curug Meong dibagian tengah, dan Curug Asrupan dibagian kiri. Ketiga Curug ini memiliki aliran air berwarna hijau karena berada ditengah rimbunnya pepohonan.

Kisah yang sempat melegenda di objek wisata Curug Cikaso adalah adanya seorang pria pemberani bernama Ki Hamali. Warga di dekade 80 an sangat hapal dengan kisah Ki Hamali.

Konon kabarnya sosok Ki Hamali sangat disegani oleh warga sekitar karena ilmu yang dimilikinya. Ki Hamali mampu menembus dimensi lain sehingga para mahluk halus segan pada Ki Hamali.

Ada ciri khas yang dimiliki Ki Hamali, setiap kali ia menyeberangi sungai Cikaso, selalu mengenakan topi dengan posisi miring. Ini dilakukannya agar Ki Hamali mudah dikenali oleh para mahluk halus termasuk biaya Cikaso. Dengan cara itu para mahluk halus dan buaya mudah mengenali Ki Hamali, dan segan untuk mengganggunya.

Percaya atau tidak cerita itu menyebar dari mulut ku mulut dan menjadi cerita di masyarakat, terutama ada di dekade 70 – 80 an.

Pos terkait