LINGKARPENA.ID | GM, seorang perempuan yang diduga menjadi korban perlakuan tidak senonoh oleh oknum guru di salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Sukabumi, kembali menyampaikan keresahan dan perkembangan kasus yang menimpanya.
Hal tersebut ia ceritakan melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada Minggu, 16 Novrmbrr 2025.
Dalam unggahannya, GM menjelaskan bahwa proses penanganan terhadap oknum guru tersebut terus berjalan. Ia mengungkapkan bahwa terlapor telah kehilangan dua jabatan penting di dunia pendidikan setelah kasusnya mencuat ke publik.
“Pelaku sudah mengundurkan diri di Sekolah Menengah Atas. Dan pelaku sudah dipecat secara tidak hormat sebagai kepala sekolah di salah satu Sekolah Menengah Pertama,” tulis GM.
GM menyebut bahwa proses hukum terhadap dugaan perbuatan tidak senonoh itu sedang ia dalami bersama pihak terkait. Mengingat kasus tersebut melibatkan anak di bawah umur, ia menegaskan perlunya penanganan yang hati-hati dan transparan.
“Untuk proses hukum, saya sedang mendalami dan terus berkoordinasi dengan dinas terkait karena ini termasuk kasus anak-anak di bawah umur,” ujarnya.
Dalam unggahan yang sama, GM menyampaikan rasa terima kasih kepada lembaga serta instansi yang telah memberikan perhatian dan menindak tegas pelaku. Ia juga menghargai dukungan dari para sahabat yang terus memberinya kekuatan.
“Saya mewakili para korban, berterima kasih kepada lembaga dan instansi yang terus bergerak dan memberikan hukuman tegas untuk pelaku. Terima kasih juga kepada teman-teman yang selalu mensupport dan mendoakan saya. Semoga usaha kita membuahkan hasil, walaupun saya tahu proses ini akan panjang ke depannya. Kita kawal bersama kasus ini,” tulisnya.
GM juga merasa perlu meluruskan tuduhan yang diarahkan kepadanya. Ia membantah keras anggapan bahwa dirinya memviralkan kasus tersebut karena motif dendam atau kedekatan masa lalu dengan pelaku.
“Pelaku berdalih saya memviralkan ini karena motif dendam dan saya mengejar-ngejar pelaku sejak dulu. Boleh dicek oleh pihak mana pun bahwa saya tidak pernah berhubungan dengan pelaku sejak saya keluar beasiswa. Saya tidak pernah mengikuti acara atau reuni yang diadakan pelaku,” jelasnya.
GM bahkan menegaskan bahwa hingga kini ia masih diliputi rasa trauma setiap kali membayangkan harus berinteraksi dengan terlapor.
“Saya sampai detik ini selalu menangis, takut, berdebar, dan keringat dingin jika dihadapkan atau dihubungi oleh pelaku,” ungkapnya.
Di akhir tulisannya, GM menyelipkan kalimat bernada tegas untuk menepis tuduhan pelaku yang dinilainya tidak masuk akal.
“Please euy, salaki aing lebih ganteng dan gagah,” tulisnya.
Kasus ini terus menarik perhatian publik, terutama karena berkaitan dengan dunia pendidikan dan perlindungan terhadap anak. GM meminta masyarakat untuk tetap memberi dukungan moral dan bersama-sama mengawal proses hukum hingga tuntas.






