Menjelang Lebaran, Lapak Pembeli Emas di Surade Justru Sepi Penjual

LINGKARPENA.ID | Riuh aktivitas perdagangan yang biasanya terasa menjelang Hari Raya Idulfitri di kawasan pusat perbelanjaan Surade, Kabupaten Sukabumi, tahun ini tampak berbeda. Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat, justru para pembeli emas yang mangkal di sepanjang pertokoan mengeluhkan sepinya warga yang datang untuk menjual perhiasan mereka.

 

Di bawah terik matahari, beberapa pembeli emas masih setia menunggu. Namun, harapan untuk mendapatkan transaksi seperti tahun-tahun sebelumnya tampak kian menipis. Salah satunya dirasakan Congay, pembeli emas yang sudah lama beraktivitas di kawasan tersebut.

Baca juga:  Suasana Haru Iringi Pisah Sambut Kepala SMAN 1 Surade

 

“Untuk tahun ini sepi. Dalam satu bulan paling hanya beberapa orang yang menjual, itupun emas yang benar-benar sudah dalam kondisi rusak,” ujar Congay saat ditemui di depan pertokoan Surade.

 

Menurutnya, kondisi ini cukup kontras dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, menjelang Lebaran menjadi momen ramai bagi warga untuk menjual emas guna memenuhi kebutuhan hari raya. Namun kini, fenomena tersebut justru meredup.

Baca juga:  Desa Kebonpedes Salurkan DD Untuk Pemberdayaan Masyarakat Program Ketahanan Pangan.

 

Menariknya, di tengah menurunnya jumlah penjual, jumlah pembeli emas yang mangkal justru meningkat. Hal ini menciptakan persaingan yang lebih ketat di antara para pembeli, meski peluang mendapatkan barang semakin kecil.

 

“Pembeli sekarang malah lebih banyak. Tapi yang jual justru berkurang,” tambahnya.

 

Congay menuturkan, selama ini dirinya lebih sering membeli emas dalam kondisi rusak atau tanpa surat. Usaha tersebut telah ia jalani bertahun-tahun sebagai sumber penghasilan utama. Namun situasi tahun ini membuat perputaran usahanya terasa melambat.

Baca juga:  Wbup Terima Kunjungan Apindo Kabupaten Sukabumi, Bahas ini

 

Sepinya penjual emas di Surade menjadi potret kecil perubahan perilaku ekonomi masyarakat. Di tengah kebutuhan Lebaran yang biasanya meningkat, warga tampaknya lebih memilih mempertahankan aset mereka dibanding melepasnya seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pos terkait