Menjemput Ramadhan dengan Kearifan Lokal: Munggahan dan Tradisi Sunda Tempo Dulu yang Sarat Makna

Gambar Ilustrasi keceriaan Ramadan.[sumber AI/net

LINGKARPENA.ID | Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, suasana di tanah Pasundan tempo dulu selalu terasa berbeda. Udara seolah lebih teduh, obrolan warga semakin hangat, dan aktivitas masyarakat perlahan mengarah pada satu tujuan: mempersiapkan diri lahir dan batin untuk memasuki bulan penuh ibadah.

Di tengah kehidupan yang masih lekat dengan nilai kebersamaan, masyarakat Sunda memiliki sejumlah tradisi khas menjelang puasa. Tradisi-tradisi itu bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari budaya spiritual yang diwariskan turun-temurun. Salah satu yang paling dikenal adalah Munggahan, yang biasanya dilakukan satu hingga dua hari sebelum Ramadhan tiba.

Munggahan: Naik Derajat, Naik Kesadaran

Dalam bahasa Sunda, munggahan berasal dari kata “unggah” yang berarti naik. Namun maknanya jauh lebih dalam dibanding sekadar naik secara harfiah. Munggahan dimaknai sebagai momentum meningkatkan kualitas diri—baik perilaku maupun keimanan—dari bulan Sya’ban menuju Ramadhan.

Pada masa lalu, tradisi ini identik dengan kebersamaan keluarga. Mereka berkumpul, menggelar doa bersama, lalu melanjutkannya dengan makan bersama atau botram. Sajian yang dihidangkan pun sederhana, namun penuh makna karena dinikmati dalam suasana kekeluargaan.

Di banyak kampung, munggahan menjadi semacam pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menata hati dan memperbaiki hubungan antar sesama.

Baca juga:  Kritik Konstruktif Dinamika Pelaksanaan Konfercab HMI Sukabumi Ke-XVI

Botram dan Silaturahmi yang Menguatkan Ikatan

Tradisi makan bersama menjadi simbol penting. Botram tidak selalu dilakukan di rumah. Kadang keluarga besar memilih halaman, kebun, atau tempat terbuka. Anak-anak berlarian, orang tua saling bercengkerama, dan suasana terasa seperti perayaan kecil sebelum memasuki bulan penuh kesungguhan.

Di momen itu, silaturahmi menjadi inti. Keluarga yang jarang bertemu akan menyempatkan pulang. Kerabat yang jauh datang membawa kabar. Semua berkumpul dalam satu rasa: menyambut Ramadhan dengan hati lapang.

Papajar: Menjemput Fajar, Menjemput Syukur

Selain munggahan, masyarakat Sunda tempo dulu juga mengenal tradisi Papajar, yang berarti “mapag fajar” atau menjemput fajar. Tradisi ini dilakukan dengan cara rekreasi sederhana bersama keluarga atau kerabat ke alam terbuka.

Ada yang pergi ke sawah, kebun, pesisir, atau tempat wisata alam. Bukan untuk bersenang-senang berlebihan, tetapi sebagai wujud rasa syukur sebelum memasuki masa puasa. Dalam tradisi papajar, kebahagiaan dirayakan secara sederhana—cukup dengan menikmati alam, tertawa bersama, dan menyadari bahwa hidup masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan.

Baca juga:  Pekerjaan Rumah Bupati dan Wakil Bupati Terpilih Dibidang Agraria, 'Harus Berani Berantas Tuan Tanah Baru'

Kuramasan: Membersihkan Raga, Menjernihkan Jiwa

Persiapan menyambut Ramadhan juga dilakukan melalui tradisi kuramasan. Ini adalah kebiasaan mandi besar atau keramas untuk membersihkan diri. Pada masa lalu, banyak warga melakukannya di sungai, pancuran, atau mata air.

Kuramasan bukan sekadar membersihkan tubuh, tetapi juga menyimbolkan niat untuk menyucikan diri secara lahir dan batin. Bahkan anak-anak pun ikut serta. Bagi masyarakat tempo dulu, kesiapan menjalani puasa tidak hanya soal spiritual, tetapi juga kesiapan jasmani.

Nyekar: Mengirim Doa untuk yang Telah Tiada

Tak lengkap rasanya munggahan tanpa tradisi ziarah kubur atau nyekar. Menjelang Ramadhan, warga berbondong-bondong mendatangi makam orang tua, keluarga, atau leluhur.

Mereka membersihkan area makam, merapikan rumput, menabur bunga, lalu memanjatkan doa. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan bersifat sementara. Di hadapan makam, manusia diajak merenung dan menyadari pentingnya memperbaiki diri sebelum terlambat.

Nganteuran dan Marema: Berbagi yang Menghidupkan Kampung

Tradisi lain yang juga menguatkan nilai sosial adalah nganteuran. Dalam tradisi ini, masyarakat saling mengantarkan makanan kepada tetangga atau saudara. Isinya bisa berupa ayam, daging, kue tradisional, atau hasil masakan rumahan.

Baca juga:  Menilai Sukabumi Jadi "Pabrik" Migran

Kebiasaan nganteuran sering menciptakan suasana ramai menjelang puasa. Di beberapa daerah, suasana itu dikenal sebagai marema, ketika aktivitas warga meningkat dan pasar mendadak ramai oleh orang-orang yang membeli kebutuhan munggahan.

Tradisi ini menjadi simbol bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga urusan bersama. Berbagi makanan adalah bentuk silaturahmi yang paling sederhana, namun terasa sangat hangat.

Warisan Budaya yang Masih Relevan

Seiring perkembangan zaman, sebagian tradisi tersebut mulai berubah bentuk. Ada yang tetap bertahan, ada pula yang mulai jarang dilakukan. Namun maknanya tetap relevan: membersihkan diri, mempererat hubungan, serta memperbanyak doa sebelum memasuki bulan penuh berkah.

Munggahan dan tradisi Sunda lainnya mengajarkan bahwa Ramadhan bukan sekadar pergantian kalender hijriah. Ia adalah momentum besar untuk memperbaiki hati, memuliakan keluarga, dan menumbuhkan kembali kepedulian sosial.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi tempo dulu itu seakan menjadi pengingat bahwa menyambut Ramadhan seharusnya dilakukan dengan ketenangan, kesadaran, dan kebersamaan. Sebab bagi orang Sunda tempo dulu, Ramadhan bukan hanya bulan puasa—tetapi bulan untuk “naik” menjadi manusia yang lebih baik.

Pos terkait