LINGKARPENA.ID | Warga Kampung Ciherang RT 10/09, Desa Gunungmalang, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, akhirnya bisa bernapas lega setelah misteri kematian puluhan ekor kambing milik mereka terungkap.
Insiden yang terjadi pada awal September 2025 ini sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak setempat, karena bangkai ternak ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tanpa petunjuk jelas mengenai pelakunya.
Namun, berkat kewaspadaan warga dan upaya investigasi yang gigih, penyebabnya kini diketahui sebagai serangan anjing hutan yang ganas.
Kepala Desa Gunungmalang, Ajang Rahmat, dalam pernyataannya kepada lingkar pena. id, menjelaskan bahwa sejak kejadian pertama, warga langsung melaksanakan ronda malam secara intensif untuk melindungi ternak mereka.
“Sejak adanya peristiwa itu, warga tak henti setiap malam melaksanakan ronda malam. Suatu malam, warga menemukan ada dua ekor anjing hutan yang berkeliaran di sekitaran kandang domba,” ujar Ajang kepada lingkarpena.id Senin (29/9).
Penemuan anjing liar itu menjadi titik balik. Keesokan harinya, Ajang Rahmat segera melakukan penyelidikan awal dengan menanyakan kepada warga apakah ada yang memelihara anjing serupa. Hasilnya mengejutkan, tidak ada satu pun warga yang mengakui memiliki hewan tersebut.
“Kami meyakini bahwa tak ada warga yang memelihara anjing. Akhirnya, kami meminta bantuan tim jaga hama Kecamatan Cikidang untuk melakukan perburuan,” tambah Ajang, menekankan keyakinannya bahwa predator-predator itu berasal dari hutan liar yang mengelilingi desa.
Upaya perburuan pun segera dilakukan dengan melibatkan tim khusus pengendalian hama. Operasi ini tidak main-main. 14 orang pemburu bahkan rela menginap di lokasi untuk memantau pergerakan hewan-hewan tersebut.
Target utama adalah empat ekor anjing hutan yang diduga sebagai pemangsa atas serangan berulang. Setelah perjuangan panjang di tengah medan hutan yang sulit, hasilnya positif. Dua ekor berhasil dilumpuhkan, dan dua ekor lainnya kabur ke dalam hutan, dengan dugaan kuat bahwa mereka bersembunyi di salah satu goa yang ada di kawasan tersebut.
“Kami bersama tim sempat menginap. Dua ekor anjing hutan berhasil kami lumpuhkan, yang dua lagi lari ke hutan. Kami meyakini anjing itu masuk ke dalam goa,” imbuh Ajang, menceritakan detail operasi yang memakan waktu berhari-hari.
Insiden ini bukan hanya soal kehilangan ternak, tapi juga ancaman bagi keamanan pangan dan mata pencaharian warga desa yang bergantung pada peternakan.
Puluhan kambing yang mati akibat serangan ini diperkirakan merugikan peternak hingga puluhan juta rupiah, mengingat ternak tersebut sering dijadikan aset utama untuk usaha sampingan warga.
Di tengah upaya pemerintah daerah Sukabumi untuk mendorong pengembangan pertanian dan peternakan berkelanjutan, kasus seperti ini menjadi pengingat akan tantangan alam liar yang masih mengintai wilayah pedesaan.
Kini, suasana di Kampung Ciherang kembali tenang. Warga pemilik ternak tak lagi resah karena biang terornya telah tertangkap sebagian.
Ajang Rahmat menambahkan bahwa desa akan terus meningkatkan pengawasan, termasuk pemasangan pagar pengaman dan edukasi kepada warga tentang cara melindungi ternak dari predator liar.
“Kami berharap tidak ada kejadian serupa lagi. Ini pelajaran berharga bagi kami semua,” tuturnya.
Kasus ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, dinas terkait, dan masyarakat dalam menangani isu lingkungan dan keamanan pangan.
Di Kabupaten Sukabumi, yang dikenal dengan potensi agrarisnya, insiden seperti ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat program-program konservasi hutan dan pengendalian satwa liar, sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan.






