Napak Tilas Kabuyutan Kampoeng Awi Sukabumi 

LINGKARPENA.ID – Falsafah cai (air) Kabuyutan (Cikal Bakal) yang mengandung arti tumbuhnya kehidupan di suatu tempat atau wilayah. Ini menjadi titik dan ciri kebesaran satu rumpun atau koloni yang mempunyai kekuatan energi positif. Selain itu, menjadi suatu embrio besar menyusun trah kemakmuran bagi bangsanya.

Salah satu lokasi terdapat Cai Kabuyutan berada di lembah Halimun, Desa Perbawati Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi. Disini ada cerita yang bernuansa exotic. Lembah yang dikelilingi rumpun bambu dengan dedaunan hijau, siapapun yang singgah dibuat terasa nyaman tenteram bisa bersatu dengan alam.

Sepoi-sepoi angin semilir menebar kesejukan. Perlahan, disini terungkap tabir rahasia alam. Hikayat rakyat menjadi nuansa utama, terdapat energi kuat di lokasi seputar ini terdapat adanya sumber mata air. Mata air yang memiliki PH 7,2 ini adalah hal yang sangat luar biasa. Selain itu, di lokasi seputar ini terdapat sebuah makam patilasan “Eyang Ayen Pradakusumah”.

Baca juga:  Politisi PDI-P Dapil V Sukabumi, Salurkan Bantuan Sembako

Makam tersebut hingga saat ini masih banyak di kunjungi oleh kalangan orang-orang tertentu, untuk berziarah. Konon, menurut keterangan dari para peziarah, berdasarkan petunjuk ghaib yang mereka terima yaitu harus berziarah ke makam “Eyang Ayen Pradakusumah”.

Mendiang Eyang Ayen Pradakusumah adalah serdadu utusan dari Gentar Bumi (Palabuanratu) yang utus oleh Raja untuk membuka (ngababakan) di sekitar daerah kampung Tenjolaya, Desa Karawang. Sehingga pada waktu itu wilayahnya diperluas. Selain membuka pertanian dan perkebunan, beliau juga bermukim lalu menyepi melalui tapa brata disekitar ‘Cai Kabuyutan’ Kampoeng Awi tersebut.

Sedangkan masyarakat di sekitar lokasi Kampoeng Awi sendiri tidak banyak orang yang mengetahui soal keberadaan makam “Eyang Ayen Pradakusumah” ini. Namun, seiring banyaknya para peziarah yang datang baru masyarakat sekitar mengetahuinya, ternyata di lokasi itu ada Makom karomah. Dan hingga kini banyak peziarah datang dari Palabuanratu. Bahkan, peziarah datang dari berbagai daerah lainnya.

Baca juga:  Longsor Tutup Jalan Kabandungan dan Ancam 4 Rumah di Sukabumi

Kampung Awi bersikap menghormati keberadaan Makam tersebut untuk tetap bisa dikunjungi para peziarah.

Pemilik lokasi wisata Kampoeng Awi beralasan cukup sederhana. Di lokasi ini terdapat berbagai jenis bambu khas Sukabumi, hingga dinamai “Kampoeng Awi”.

Kampoeng Awi saat ini menjadi salah satu lokasi destinasi wisata alam dan kuliner. Tumbuhan Bambu dan rimbunnya dedaunan, menambah sejuknya udara di kawasan kaki Gunung Gede ini bisa dirasakan di Kampoeng Awi. Kemurnian atmosfir yang alami, bebas diraih sebagai pelepas penat dari kejenuhan suasana hiruk-pikuk kota.

Baca juga:  Sekda Kunjungi Korban Keracunan Massal di Puskesmas Purabaya, Ini Pernyataan Kapolsek!

Konsep Kampoeng Awi sendiri mengedepankan (Alam harus dijaga dan ditanami agar pohon itu berzikir pada penanamnya). Hal ini dilakukan untuk menjaga kemurnian atmosfir yang memancarkan ion negatif. Ion negatif alami banyak terdapat di daerah pegunungan dan lokasi yang paling besar adalah seputar sumber dan mata air yang alami dan murni.

Para peneliti mengungkapkan, ion negatif sangat bermanfaat bagi kesehatan. Hal itu bisa meningkatkan imunitas dan kerja limpa. Selain itu dapat meningkatkan aktivitas mental dan fisik, serta mengurangi kelelahan karena dapat mengurai asam laktat. Bahkan, bisa meningkatkan konsentrasi dan produktivitas kerja untuk mengatasi stres, memperbaiki kualitas tidur, mencegah kanker dan paru serta mendetoksifikasi sistem tubuh.

 

Oleh: Kang Aris Jampang

Pos terkait