LINGKARPENA.ID | Sekretaris DPC GMNI Sukabumi Raya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) saat ini tengah dihadapkan pada situasi yang tidak ideal, yaitu fragmentasi yang tengah terjadi dalam tubuh GMNI secara Naisonal.
Situasi ini ditandai dengan perpecahan internal, munculnya faksi-faksi kepentingan, hingga inkonsistensi yang dapat merusak semangat kolektif serta menggerus nilai-nilai utama yang menjadi fondasi GMNI sejak pertama dilahirkan, yaitu asas perjuangan Marhaenisme.
“Saya atas nama Sekretaris DPC GMNI Sukabumi Raya memandang bahwa fragmentasi ini tidak hanya melemahkan kekuatan structural organisasi, akan tetapi juga mengancam ruh asas perjuangan Marhaenisme yang seharusnya menjadi pemersatu seluruh kader GMNI di Indonesia”.
Sebagai Organisasi kader dan Organisasi perjuangan, GMNI tidak boleh kehilangan arah akibat pertarungan ego dan ambisi individu atau kelompok tertentu.
GMNI bukan ruang transaksi kekuasaan, melainkan ruang pengabdian dan Pendidikan ideologis untuk membentuk kader bangsa yang berpihak kepada Rakyat Marhaen. Semangat Kolektif untuk bersatu harus lebih besar daripada ego faksi.
“Saya pribadi menginginkan seluruh kader Kembali kepada garis ideologis, menjunjung tinggi prinsip persatuan, dan menempatkan kepentingan Rakyat Marhaen sebagai orientasi perjuangan utama”.
“Saya percaya bahwa GMNI masih memiliki Cadangan moral, intelektual dan Ideologis yang kuat untuk Kembali menyatu dan menjadi pelopor perubahan social.Fragmentasi hanya akan membawa kita mundur dan mengkhianati amanat Sejarah perjuangan kaum Marhaenis”.
Oleh: Rifky Zulhadzilillah
Sekretaris DPC GMNI Sukabumi Raya






