LINGKARPENA.ID | Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Surade 4 akhirnya buka suara terkait keluhan warga mengenai kemasan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk penerima manfaat kategori B3 di Kampung Pasiripis, Desa Kadaleman, Kecamatan Surade, yang sempat dikemas menggunakan kantong plastik pada pendistribusian hari Senin ( 13/4/2026 ).
Kepala SPPG Surade 4, Rivaldi, menegaskan bahwa penggunaan kantong plastik tersebut bukan merupakan kebijakan ataupun inisiatif dari pihaknya.
“Kami sudah mengetahui adanya keluhan warga soal kemasan plastik itu. Dan itu bukan atas inisiatif kami. Dalam pendistribusian, kami berjalan sesuai prosedur. Itu merupakan inisiatif kader,” ujar Rivaldi saat dikonfirmasi, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil penelusuran internal, penggunaan plastik dilakukan oleh sejumlah kader di lapangan untuk memudahkan proses distribusi kepada penerima manfaat.
Meski demikian, Rivaldi menyayangkan langkah tersebut dan menegaskan bahwa pengemasan makanan dalam satu kantong plastik hingga bercampur tidak dibenarkan.
“Ke depan akan kami lakukan evaluasi dan pembinaan kepada para kader agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Rivaldi juga mengapresiasi peran aktif masyarakat yang telah menyampaikan informasi dan masukan.
“Kami berterima kasih kepada warga atas informasinya. Ini menjadi bahan evaluasi bagi kami agar pelayanan semakin baik,” tambahnya.
Diketahui, SPPG Surade 4 saat ini menyalurkan sekitar 3.000 paket MBG, dengan 700 paket diperuntukkan bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) kategori B3. Khusus di Kampung Pasiripis, tercatat sekitar 100 paket disalurkan kepada KPM B3.
Adapun menu MBG pada Senin (13/4/2026) meliputi nasi, ayam katsu, orek tempe, tumis wortel dan buncis, serta buah jeruk.
Sementara itu, Pembina Kader Desa Kadaleman, Susi, turut memberikan penjelasan terkait mekanisme distribusi MBG di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa secara prosedur, makanan disalurkan menggunakan wadah ompreng, bukan plastik.
“Dari MBG sendiri tidak ada penggunaan plastik. Semua dikemas menggunakan ompreng dan didistribusikan ke posyandu-posyandu,” jelas Susi.
Namun, ia mengakui bahwa penggunaan plastik terjadi secara terbatas akibat kondisi di lapangan.
“Awalnya kami mengimbau KPM membawa wadah sendiri untuk wadah alihan dari omprengan, karena omprengan harus dibawa kembali petugas SPPG. Hanya tetapi tidak semua KPM membawa. Sehingga ada inisiatif spontan dari kader untuk menggunakan plastik, dan itu pun hanya sebagian kecil saja,” ungkapnya.
Susi menambahkan, dari tujuh posyandu yang ada, hanya beberapa paket di Kampung Pasiripis yang sempat menggunakan plastik, sementara sebagian besar tetap menggunakan wadah sesuai ketentuan.
“Secara umum pendistribusian dari SPPG Surade 4 sudah berjalan baik, baik untuk makanan kering maupun basah, dan tepat sasaran ke posyandu,” pungkasnya.
Atas kejadian ini Susi mengaku kedepan tidak terulang lagi dan akan melakukan evaluasi ujarnya.






