LINGKARPENA.ID | Belakangan komoditi pertanian sukabumi seperti kelapa, ubi jalar, serta jenis rempah-rempah mengalami permintaan pasar yang cukup besar, untuk pemenuhan kebutuhan eksport pada beberapa negara.
Merespon hal tersebut, Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Sukabumi Dani Tarsoni mengatakan bahwa hal ini merupakan kesempatan sekaligus tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mendorong keberlangsungan usaha yang sirkular antara para petani, pelaku industri, dan eksportir guna menwujudkan petumbuhan ekonomi masyarakat.
“Komoditas seperti kelapa, manggis banyak produk lah, ubi jalar tuh dikirimnya ternyata mereka berangkatnya dari bogor, ya yang dapat yang dapat ekspor ya bogor, gitu juga ya artinya enggak apa apa, yang penting petani kita warga kita kan bisa ini, nah kita sekarang berusaha, mendorong untuk eksportir ini ada disukabumi” ucapnya, Senin (16/06/2025).
Dani menerangkan bahwa eksportir yang ada di sukabumi ekspor produk lokal itu semuanya SKA-nya (baca: Surat Keterangan Asal) diterbitkan dari Disdagin, ketika keberangkatkatannya langsung dilakukan dari sukabumi, dan itu menjadi nilai tambah atas data eksport produk Sukabumi.
“Kita sudah memiliki nih, sekarang ada di kawasan industri bogorindo itu salah satu perusahaan ekspor impor kayak begitu. Jadi kawasan berikat-lah kayak begitu,” katanya.
“Nah kita sedang perusahaan mendorong semua produk-produk pelaku ekspor kita itu masuknya ke sana minimal bisa diberangkatkan dari Sukabumi dan menambah nilai ekspor kita kan kita punya angka tiap tahun itu” sambung Dani.
Kendati begitu, untuk produk hasil pertanian Ia berharap bahwa tetap mempertimbangkan kebutuhan produksi lokal terlebih dahulu, agar tidak terjadi kelangkaan bahan baku yang dapat menyulitkan para pelaku Industri Kecil menengan (IKM) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
“Harus juga mempertimbangkan kebutuhan lokal, khusus untuk komoditi pertanian, jangan sampai nih misalkan nanti kelapa dieksport tapi pelaku IKM mengeluh kepala langka,” tungkasnya.






