Saluran Irigasi Jebol, Warga Mekarmukti Berharap Perbaikan Segera

LINGKARPENA.ID | Langit kelabu menggantung di atas Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, seolah turut merasakan kepedihan yang mendalam di hati para petani. Harapan yang sempat mekar seiring perbaikan saluran irigasi Ciletuh–Cipinang pada 17 Agustus 2025, kini kembali layu tak berdaya.

 

Pada 15 September 2025, kurang dari sebulan setelah perbaikan gotong royong yang memakan biaya besar dan tenaga selama 34 hari menyewa alat berat, ‘urat nadi’ pertanian mereka kembali putus.

 

Jaenal Abidin, salah seorang petani setempat, menuturkan dengan nada getir bahwa keretakan di Blok Cinusa semakin parah, sementara di Blok Cihurang, irigasi kembali jebol.

Baca juga:  Hari Tani Nasional di Sukabumi, Danrem Panen Padi Kering 76,22 Ton di Lahan Perkotaan

 

“Kami seperti di persimpangan jalan, Pak. Mau sewa alat berat lagi, uang dari mana? Tapi kalau diperbaiki manual, sebentar juga rusak lagi. Musim tanam sudah di depan mata, tapi air tak kunjung sampai ke sawah,” keluhnya pada Senin, 22 September 2025.

 

Dilema ini bukan hanya soal biaya, tetapi juga tentang masa depan yang terancam. Memaksa air mengalir hanya akan memperluas kerusakan, sementara menunggu perbaikan permanen dari Dinas PU yang direncanakan pada 2026, berarti mengulang kembali trauma gagal panen yang sudah dua kali mereka rasakan.

Baca juga:  Dinas PU Benahi Saluran Irigasi Ciletuh-Cipinang di Kecamatan Waluran yang Tergerus Longsor

 

Bagi petani Mekarmukti, irigasi Ciletuh–Cipinang bukan sekadar infrastruktur, melainkan jembatan penghubung antara hidup dan mati. Aliran air dari Sungai Ciletuh, yang berhulu di Curug Puncak Jeruk, adalah sumber kehidupan bagi 400 hektare lahan sawah di Kedusunan Sukasirna.

 

Ribuan jiwa menggantungkan nasibnya pada setiap tetes air yang mengalir. Namun, sejak bencana banjir dan longsor pada Desember 2024 yang menghantam 27 titik sepanjang 8 kilometer saluran, 3 kilometer di antaranya rusak parah.

Selama hampir setahun, air tak lagi menjangkau sawah, memaksa mereka hidup dalam ketidakpastian.

 

Jaenal menambahkan, meskipun iuran petani tak seberapa, mereka tetap berjuang memperbaiki kerusakan akibat debit air yang terus meningkat setiap hari karena hujan. Namun, upaya “tambal sulam” ini tak akan bertahan lama.

Baca juga:  Reses di Desa Mangunjaya, Anang Janur: Serap Aspirasi Warga Soal Infrastruktur dan Pendidikan

 

Petani Mekarmukti, melalui Jaenal Abidin, memohon bantuan kepada “Pak Asjap dan Pak KDM,” agar pemerintah segera turun tangan. Mereka mendambakan solusi permanen, bukan sekadar penanganan sementara, agar kisah pilu gagal panen tidak lagi menjadi takdir yang berulang.

 

Musim tanam telah tiba, namun keresahan tetap menghantui, menanti kapan air akan kembali mengalir lancar, membawa serta harapan yang tak pernah padam di tengah cobaan.

Pos terkait