LINGKARPENA.ID | Dunia jurnalistik di Kabupaten Sukabumi tengah berduka. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sukabumi, Mulya Hermawan, wafat pada Minggu (30/11/2025).
Kepergian almarhum menjadi kabar menyedihkan yang menyapu seluruh kalangan pers, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan rekan-rekan seprofesi yang selama ini mengenalnya sebagai sosok yang hangat, tegas, dan berdedikasi.
Rasa kehilangan itu juga sangat dirasakan oleh Syahdan Alamsyah, wartawan detik.com yang selama bertahun-tahun memiliki hubungan baik dengan almarhum. Ia menuturkan bahwa sosok Mulya bukan sekadar kolega, tetapi juga mentor yang kerap menjadi tempat bertukar pikiran tentang dunia pers dan kondisi jurnalisme di daerah.
Syahdan masih menyimpan sebuah tangkapan layar komunikasi terakhirnya dengan almarhum, bertanggal 9 Oktober 2025. Tangkapan layar itu kini terasa seperti saksi bisu dari percakapan yang penuh makna. “Hari ini beliau pergi, tetapi pemikiran dan visi beliau tentang dunia pers tetap hidup dan relevan,” kata Syahdan mengenang.
Dalam percakapan telepon mereka pada hari yang sama, almarhum Mulya menyampaikan pandangan jernih tentang beratnya tantangan jurnalisme modern. Ia menyoroti bagaimana derasnya arus informasi di media sosial menciptakan “hutan rimba” informasi, di mana masyarakat sulit membedakan mana berita hasil kerja jurnalistik profesional dan mana konten instan yang dibuat tanpa standar etik.
Lebih jauh, almarhum menumpahkan kegelisahannya pada fenomena yang kian marak: oknum yang mengatasnamakan profesi wartawan demi kepentingan pribadi. Menurutnya, tindakan pemerasan atau penyalahgunaan atribut media merupakan ancaman serius bagi integritas profesi. Mulya percaya, jurnalisme bukanlah sekadar memiliki kartu pers atau mengenakan rompi media, melainkan komitmen moral terhadap kebenaran, etika, dan kepentingan publik.
“Beliau selalu menekankan bahwa tugas wartawan bukan hanya menulis berita, tapi menjaga marwah profesi,” ujar Syahdan. “Itu pesan yang sampai hari ini terus terngiang.”
Kepergian sosok Mulya Hermawan meninggalkan kekosongan yang tak mudah tergantikan. Di mata rekan-rekannya, ia adalah figur yang selalu hadir untuk memperjuangkan profesionalitas pers, membangun kebersamaan dalam organisasi, serta memastikan bahwa wartawan di daerah dapat menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Meski telah berpulang, nilai-nilai dan semangat yang diwariskan almarhum diharapkan dapat menjadi kompas moral bagi insan pers di Sukabumi. Rekan-rekan seprofesi menegaskan bahwa perjuangan almarhum dalam menjaga integritas dunia jurnalistik akan terus dilanjutkan oleh generasi yang ditinggalkannya.
“Selamat jalan, Kang Mulya,” ucap Syahdan penuh haru. “Pena dan perjuanganmu kini kami yang teruskan.”






